LombokPost – Perang Israel Iran menyebabkan sejumlah bandara di kawasan Timur Tengah berhenti beroperasi. Khususnya, bandara di dua negara yang sedang bertikai itu.
Hal ini membuat publik di Indonesia dengan proses pemulangan jemaah haji di Indonesia. Mengingat, Arab Saudi juga bagian dari kawasan Timur Tengah.
Menanggapi hal itu, Menteri Agama, Prof Nasaruddin Umar mengatakan sampai saat ini, proses pemulangan jemaah haji asal Indonesia baru sekali mengalami keterlambatan.
Diketahui, penerbangan yang tertunda itu adalah penerbangan SV 5296 yang mengangkut jemaah haji Kloter KJT 01, Kamis, 12 Mei 2025 malam.
Jadwal penerbangan SV 5296 itu harusnya pada pukul 19.15 Waktu Arab Saudi (WAS), tapi jadwal penerbangannya jadi terlambat lebih dari enam jam.
Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menerima informasi keterlambatan dari pihak maskapai penerbangan sekitar pukul 18.45 WAS.
Dalam penerbangan itu, terdapat 445 jemaah haji Indonesia yang terdiri dari 203 laki-laki dan 242 perempuan.
Prof Nasaruddin Umar mengungkapkan, penerbangan itu terjadi bukan karena imbas dari perang Israel dan Iran yang sedang terjadi belakangan ini. Melainkan, karena ada masalah teknis.
"Kita juga bersyukur per hari ini pemulangan itu baru satu kali mengalami kemunduran kurang dari enam jam. Tapi kita kompensasikan dengan pemberian makanan," ungkap Prof Nasaruddin di Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, Minggu, 15 Juni 2025.
Prof Nasaruddin menambahkan, secara keseluruhan proses pemulangan jemaah haji asal Indonesia sama sekali tidak mengalami kendala akibat peperangan kedua negara itu.
Diketahui, fase pemulangan jemaah haji Indonesia gelombang I sudah dimulai sejak 11 Juni 2025 lalu.
"Israel kita gak tahu. Israel di sini gak ada relevansinya, tidak ada keterlambatan (penerbangan) gara-gara Israel, tidak ada," ungkap Nasaruddin.
Lebih lanjut Nasaruddin menambahkan jadwal penerbangan pemulangan jemaah haji ke Indonesia berlangsung aman.
Menanggapi adanya keterlambatan penerbangan tersebut, Ketua Tim Pengawas Haji (Timwas) DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal Cucun menyesalkan keterlambatan penerbangan itu.
Terlebih lagi, Cucun menambahkan, para jemaah haji harus menunggu selama 6 jam di bandara tanpa pendampingan dan perhatian dari PPIH.
Atas kejadian itu, Cucun pun menekankan pentingnya skenario darurat yang harus disiapkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Daerah Kerja (Daker) Jeddah untuk mengantisipasi kejadian yang sama ke depan.
“Jangan sampai jemaah menunggu enam jam di bandara tanpa ada makanan. Mereka bisa kelaparan. Ini harus diprediksi dan diantisipasi. Kepala Daerah Kerja di Jeddah harus siap dengan skema darurat,” tegas Cucun.***
Editor : Siti Aeny Maryam