LombokPost – Sebanyak 44 Warga Negara Indonesia (WNI) tertahan di Israel dan Iran. Hal itu disebabkan karena tidak beroperasi bandara di dua negara akibat konflik antar dua negara tersebut.
Selain 44 WNI itu, akibat peperangan antara Israel dan Iran tersebut, masih ada 8 WNI lainnya yang masih tertahan di Yordania sampai sekarang.
Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia, Judha Nugraha merincikan, sebanyak 52 WNI tertahan di tiga negara, Iran, Israel dan Yordania.
Seluruh WNI yang masih tertahan di 3 negara itu terdiri dari 42 WNI peziarah di Israel, 8 WNI jamaah haji di Yordania dan 2 WNI peziarah di Teheran, Iran.
Walau demikian, Judha Nugraha memastikan bahwa para WNI tersebut telah mendapat bantuan dari KBRI Amman dan KBRI Teheran di Iran.
“Para WNI yang melakukan perjalanan singkat tersebut terdampar karena tutupnya wilayah udara dan terhentinya penerbangan,” ungkap Judha.
Untuk memastikan kondisi seluruh WNI itu, Kemlu RI bersama Perwakilan RI di Timur Tengah, khususnya di Amman dan Teheran, terus memonitor situasi dan perkembangan terbaru di Iran dan Israel.
Dalam kesempatan itu, Judha pun mengabarkan bahwa sampai saat ini, tidak ada laporan WNI yang menjadi korban akibat peperangan yang terjadi antara Iran dan Israel tersebut.
Sebelumnya, Ketua DPR RI, Puan Maharani pun mengkhawarirkan kondisi keselamatan seluruh WNI yang masih tertahan di tiga negara itu.
Terlebih lagi, masih ada 42 WNI dilaporkan terjebak di Tel Aviv, Israel sedang melakukan ziarah keagamaan.
Sementara itu, Bandara Ben Gurion sudah ditutup menyusul memanasnya konflik Israel dan Iran.
Puan Maharani mengatakan keselamatan WNI harus menjadi prioritas. Jika memungkinkan, maka harus dievakuasi dengan bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memfasilitasi proses evakuasi tersebut.
“Pemerintah harus selalu memastikan keselamatan WNI kita, khususnya yang tinggal di wilayah terdampak seperti Teheran dan Tel Aviv," papar Puan Maharani.
Puan pun mengimbau kepada seluruh WNI yang masih berada di Israel dan Iran untuk tetap waspada.
Yang terpenting, harus menjaga komunikasi secara intensif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di masing-masing negara.
“KBRI harus hadir secara aktif membantu menyediakan kebutuhan WNI yang mungkin terjebak atau kesulitan di wilayah konflik,” paparnya.***
Editor : Siti Aeny Maryam