LombokPost - Ayatollah Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, akhirnya bicara langsung soal konflik panas Iran vs Israel.
Lewat sebuah pernyataan di platform X, ulama tua yang dijuluki Imam Perlawanan itu menyatakan: "Pertempuran dimulai."
Dunia langsung menegang. Tak banyak yang tahu, pria yang kini jadi target utama Israel ini telah memegang kendali Iran selama lebih dari 30 tahun.
"Atas nama Haidar yang mulia, pertempuran dimulai," ujar Ayatollah Khamenei dalam unggahan resminya, Rabu (18/6). Kata “Haidar” mengacu pada Imam Ali, figur sentral dalam tradisi Syiah.
Dalam versi bahasa Inggris, ia menambahkan: “We must deliver a strong response to the terrorist Zionist regime. No mercy will be shown.”
Pernyataan itu muncul setelah rentetan serangan Israel terhadap fasilitas nuklir dan pangkalan militer Iran.
Israel bahkan menyatakan akan terus menargetkan ilmuwan, pusat komando, hingga rudal-rudal balistik Iran demi melenyapkan ancaman katanya udah datang belum dikasih info kayak gini.
Lahir pada 1939 di kota suci Mashhad, Ali Khamenei adalah murid langsung Ayatollah Ruhollah Khomeini, arsitek revolusi Islam Iran 1979.
Setelah Khomeini wafat, Khamenei naik sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989. Ia adalah figur paling berkuasa di Iran, mengendalikan pemerintahan, militer, peradilan, hingga jaringan proksi seperti Hizbullah dan Houthi.
Ia pernah selamat dari percobaan pembunuhan tahun 1981. Sejak itu, lengan kanannya lumpuh permanen, tapi pengaruhnya justru semakin luas.
Di bawah kendalinya, Iran membangun jaringan militan regional yang disebut Poros Perlawanan.
Ketegangan memuncak usai serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Sebagai salah satu proksi Iran, tindakan Hamas memicu serangan balasan besar-besaran dari Israel.
Kini, IDF menyerang langsung ke jantung Iran, fasilitas nuklir, pusat riset, dan posisi komando Garda Revolusi (IRGC) dihancurkan.
Mayjen Oded Basiuk dari IDF menyebut, "Kami menyerang rezim, bukan rakyat. Target kami adalah kepemimpinan di Teheran."
Ayatollah Khamenei, sang Imam Perlawanan, tetap berdiri di tengah badai. Ia simbol kerasnya sikap Iran terhadap Barat dan Israel.
Tapi kini, perang yang selama ini didelegasikan ke proksi, mulai menyentuh pusat kekuasaan Iran.
Ayatollah Khamenei bukan sekadar pemimpin spiritual. Ia adalah penjaga ideologi dan strategi geopolitik yang selama puluhan tahun membuat Iran disegani, dan ditakuti.
Saat ia mengatakan "pertempuran dimulai," dunia tahu itu bukan gertakan kosong. (***)
Editor : Alfian Yusni