LombokPost – Ketegangan global memanas usai serangan Amerika Serikat (AS) ke fasilitas nuklir Iran.
Dalam sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada Minggu (22/6), Tiongkok dan Rusia mendesak gencatan senjata segera lewat rancangan resolusi yang juga didukung Pakistan.
Resolusi gencatan senjata Iran ini mengecam keras serangan terhadap instalasi nuklir Iran, dan menyerukan penghentian kekerasan tanpa syarat.
Namun, pengamat menilai, peluang disahkannya resolusi tersebut sangat kecil. Amerika sebagai salah satu anggota tetap DK PBB dengan hak veto disebut memiliki konflik kepentingan karena terlibat langsung dalam serangan.
Tiongkok dan Rusia mendesak gencatan senjata Iran demi menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah, yang saat ini berada di ambang eskalasi besar-besaran.
“Situasinya sangat berbahaya. Kita harus segera bertindak,” ujar Duta Besar Tiongkok untuk PBB, Fu Cong, dalam sidang tersebut.
Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut serangan AS ke fasilitas nuklir Iran sebagai titik balik berbahaya.
Menurutnya, dunia sedang menuju kekerasan tak berujung jika tidak ada langkah konkret untuk meredam konflik. “Kita butuh diplomasi, bukan serangan bersenjata,” tegas Guterres.
AS membela tindakannya lewat pernyataan Duta Besar Sementara untuk PBB, Dorothy Shea.
Ia menyebut serangan sebagai langkah melindungi kepentingan nasional AS dan sekutunya.
“Iran harus menghentikan provokasi. Kami tidak akan ragu membalas jika warga atau pangkalan kami diserang,” kata Shea.
Sebaliknya, Iran mengecam keras tindakan AS dan Israel. Duta Besar Iran untuk PBB, Ali Bahreini, menyatakan serangan itu menghancurkan proses diplomasi yang telah dibangun. I
a menyebut serangan tersebut sebagai tindakan sepihak yang memicu ketidakstabilan.
Sementara itu, Israel menanggapi serangan itu dengan nada positif. Duta Besar Israel Danny Danon menyebut dunia kini menjadi lebih aman. “Soal perubahan rezim, itu urusan internal rakyat Iran,” ujarnya.
Meski resolusi gencatan senjata Iran dari Tiongkok dan Rusia masih menghadapi jalan terjal di DK PBB, langkah itu mencerminkan keprihatinan mendalam terhadap konflik yang terus meluas.
Jika tidak ada solusi diplomatik, konflik Iran vs AS bisa meluas menjadi konfrontasi regional yang berdampak global.
Editor : Rury Anjas Andita