Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

7 Dampak Ngeri Perang Dunia III yang Langsung Hantam Rakyat Indonesia

Hamdani Wathoni • Rabu, 25 Juni 2025 | 07:40 WIB
Ketegangan Iran dan Israel bisa memicu perang dunia ketiga yang berdampak ke seluruh negara, termasuk Indonesia.
Ketegangan Iran dan Israel bisa memicu perang dunia ketiga yang berdampak ke seluruh negara, termasuk Indonesia.

LombokPost–Ketegangan geopolitik global kian memanas. Konflik di Timur Tengah antara Israel dan Iran, serta perang yang belum usai antara Rusia dan Ukraina, ditambah dengan keterlibatan Amerika Serikat, berpotensi memicu Perang Dunia III.

Jika itu terjadi, dampaknya tak hanya dirasakan negara-negara besar, tetapi juga Indonesia yang berada jauh dari episentrum konflik. Berikut tujuh dampak besar yang mungkin dirasakan masyarakat Indonesia:

 

1. Harga Kebutuhan Pokok Meroket Tak Terkendali

Ini adalah dampak paling cepat dan paling terasa. Perang global akan mengganggu rantai pasok dan produksi pangan dunia. Indonesia yang masih mengimpor sejumlah bahan pokok akan melihat harganya melonjak drastis, membuat masyarakat menjerit. Beras, gandum, minyak goreng, dan gula bisa jadi barang mewah.

2. Krisis Energi Akut Berakibat Lonjakan Harga BBM

Perang Dunia III hampir pasti melibatkan negara-negara produsen dan konsumen energi utama. Konflik akan memicu lonjakan harga minyak dunia atau bahan bakar minyak (BBM) hingga di luar nalar. Efek dominonya, biaya transportasi dan produksi di dalam negeri akan membengkak, mengakibatkan kelangkaan dan inflasi besar-besaran di berbagai sektor.

3. Ancaman PHK Massal dan Perekonomian Lumpuh

Investasi asing bisa kabur, ekspor terhambat, dan sektor pariwisata akan mati suri. Banyak perusahaan, terutama yang berorientasi ekspor atau bergantung pada pasokan impor, akan kolaps. PHK massal akan menjadi pemandangan sehari-hari, meningkatkan angka pengangguran secara signifikan dan memicu gejolak sosial.

4. Gangguan Keamanan Nasional

Meskipun Indonesia berprinsip bebas aktif, gejolak global yang intens bisa merembet ke dalam negeri. Potensi konflik internal akibat tekanan ekonomi dan sosial, atau bahkan ancaman siber dari pihak-pihak tak bertanggung jawab, akan meningkat tajam. Keamanan dan ketertiban masyarakat bisa terganggu.

5. Krisis Kesehatan dan Bencana Kemanusiaan

Jika konflik melibatkan senjata pemusnah massal atau skala pertempuran sangat luas, bukan tidak mungkin akan terjadi gelombang pengungsi dari negara-negara terdampak. Indonesia, sebagai negara tetangga atau tujuan potensial, harus bersiap menghadapi krisis kemanusiaan dan tekanan pada sistem kesehatan yang sudah ada.

6. Pendidikan Terganggu Parah

Dengan ekonomi yang porak-poranda dan fokus pemerintah beralih ke penanganan krisis, sektor pendidikan akan menjadi korban. Anggaran bisa dipangkas, fasilitas tak terawat, dan akses pendidikan bagi anak-anak bisa terhambat. Generasi muda terancam kehilangan kesempatan untuk masa depan yang lebih baik.

7. Tekanan Psikologis dan Trauma Massal

Kecemasan, ketakutan, dan ketidakpastian akan menghantui setiap individu. Berita buruk yang terus-menerus dan kondisi hidup yang sulit akan memicu tekanan psikologis massal. Masyarakat akan hidup dalam bayang-bayang trauma, dengan dampak jangka panjang pada kesehatan mental bangsa.

Skenario ini tentu saja tidak kita harapkan. Namun, memahami potensi dampak buruk dari konflik global adalah langkah awal untuk senantiasa mengedepankan perdamaian dan stabilitas di kancah internasional.

Apa yang Harus Dilakukan?

Pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah antisipatif. Diversifikasi sumber energi, memperkuat ketahanan pangan, serta memperkokoh diplomasi internasional menjadi kunci untuk memitigasi dampak buruk yang mungkin terjadi.

Meskipun belum ada tanda-tanda perang dunia akan benar-benar terjadi, kesiapsiagaan menjadi langkah bijak untuk melindungi kepentingan nasional dan masyarakat Indonesia di tengah gejolak dunia.

Editor : Akbar Sirinawa
#Indonesia #Israel #amerika #iran #perang