Lewat unggahan di Truth Social, Trump menyebut bahwa Amerika akan bekerja sama dengan Qatar dan Mesir untuk memastikan proposal gencatan senjata ini bisa diterima semua pihak.
“Saya berharap Hamas menerima kesepakatan ini, karena ini demi perdamaian,” tulis Trump, Selasa (2/7).
Gencatan senjata Israel-Hamas ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh Tel Aviv. Namun, petinggi Hamas Taher al-Nunu menegaskan pihaknya terbuka terhadap proposal perdamaian, selama Israel benar-benar menghentikan agresinya di Jalur Gaza.
“Hamas siap menyetujui usulan apa pun jika persyaratannya benar-benar mengakhiri perang secara penuh,” kata al-Nunu dalam wawancara dengan BBC.
Sinyal kuat tentang keinginan warga Israel agar konflik Gaza segera berakhir juga datang dari hasil survei Institut Demokrasi Israel.
Mayoritas responden menginginkan gencatan senjata dan tak lagi mempercayai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang dinilai gagal memberikan solusi damai maupun militer yang memadai.
Netanyahu sendiri dijadwalkan bertemu dengan Donald Trump di Gedung Putih pada Senin (7/7). Pertemuan ini terjadi di tengah tekanan domestik dan internasional yang memuncak.
Tekanan itu tidak hanya terkait masa depan perang di Gaza, tapi juga menyangkut situasi keamanan regional, terutama hubungannya dengan Iran.
Dari dalam negeri, Netanyahu terjepit antara dua arus besar. Faksi sayap kanan dalam pemerintahannya mendesak untuk melanjutkan perang dan menghancurkan Hamas, tanpa negosiasi.
“Tak perlu mediator. Hamas harus dihancurkan,” tegas Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.
Sebaliknya, sejumlah menteri menyerukan pendekatan diplomatik demi pembebasan 50 sandera yang tersisa di Gaza.
Menteri Kesejahteraan Ya’akov Margi mengatakan negosiasi tidak menunjukkan kelemahan, tapi kekuatan negara.
Dalam beberapa hari terakhir, Netanyahu mulai melunak, dengan memberi isyarat bahwa pembebasan sandera kini menjadi fokus utama, bukan lagi penghancuran total Hamas. Ia juga menyebut operasi militer terhadap Iran telah membuka celah diplomatik baru, yang bisa dimanfaatkan dalam perundingan regional dan pertemuan dengan Trump.
Editor : Redaksi Lombok Post