Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ramalan Komik Picu Panik Nasional, Jepang Ketakutan Gempa 5 Juli!

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 5 Juli 2025 | 04:41 WIB
layar-layar siaran berita Jepang yang sedang menampilkan liputan langsung terkait gempa bumi yang terjadi di wilayah Kagoshima.
layar-layar siaran berita Jepang yang sedang menampilkan liputan langsung terkait gempa bumi yang terjadi di wilayah Kagoshima.

Jepang di Ambang Kepanikan Gegara Manga Lama yang “Meramal” Bencana

Ketika fiksi berubah jadi panik nasional, dan ramalan jadi lebih dipercaya daripada ilmuwan.

LombokPost – Apa jadinya jika sebuah komik tua membuat satu negara ketakutan?

Itulah yang terjadi di Jepang, ketika sebuah manga lawas berjudul The Future I Saw mencuat lagi dan memicu gelombang kepanikan akan kemungkinan gempa besar pada 5 Juli 2025.

Ironisnya, bukan riset ilmiah, bukan data seismik, tapi narasi fiksi seorang mangaka berusia 70-an lah yang membuat warga resah, maskapai membatalkan penerbangan, dan promosi wisata anjlok drastis di Jepang selatan.

"Ramalan dalam manga ini sudah bikin jutaan orang takut. Ini sangat disayangkan," kata Ryoichi Nomura, Direktur Jenderal Badan Meteorologi Jepang.


Baca Juga: Amtenar Tur ke Jepang Oktober 2025, Tampil di Gifu, Tokyo, dan Chiba

Manga The Future I Saw karya Ryo Tatsuki pertama kali terbit tahun 1999.

Di dalamnya, sang tokoh utama menggambarkan mimpi tentang gempa dahsyat di bulan Maret yang kemudian dianggap mirip dengan tragedi 2011 saat tsunami dan gempa besar melanda Jepang dan menyebabkan lebih dari 18.000 korban jiwa.

Namun yang membuat publik gelisah, dalam edisi cetak ulang tahun 2021, manga itu memuat satu “ramalan” baru: gempa berkekuatan lebih dari 8,0 SR dan tsunami besar akan terjadi pada 5 Juli.

Semuanya digambarkan lebih besar dari bencana 2011.

Efeknya nyata. Dua maskapai besar dari Hong Kong mengurangi rute ke Jepang selatan akibat penurunan minat wisatawan.

Divisi promosi wisata Tokushima bahkan mengakui pembatalan terjadi secara massal sejak pertengahan Juni.

“Kami terkejut bahwa rumor tersebut telah menyebabkan pembatalan,” ujar salah satu perwakilan pariwisata.

Di sisi lain, penjualan manga tersebut justru meledak: lebih dari 1 juta kopi terjual.

Di TikTok dan media sosial lain, kontennya viral dengan jutaan tayangan.

Ilmuwan memperingatkan bahwa sampai saat ini, tidak ada satu pun teknologi di dunia yang bisa memprediksi secara akurat kapan dan di mana gempa akan terjadi.

Bahkan jika Jepang memiliki rekam jejak gempa terbanyak—sekitar 1.500 kali setahun—mereka tetap tidak bisa meramalkan waktunya.

Panel ilmiah Jepang sendiri baru-baru ini menyatakan bahwa kemungkinan gempa besar di Palung Nankai mencapai 80 persen dalam 30 tahun ke depan, tapi itu bukan berarti akan terjadi pada 5 Juli.

Kasus ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh narasi fiksi terhadap psikis kolektif masyarakat.

Di negara dengan trauma besar terhadap gempa, satu bab dalam manga bisa mengalahkan satu dekade edukasi ilmiah.

Fenomena ini bukan sekadar paranoia sesaat, tapi refleksi akan bagaimana ketakutan, bila dibumbui sedikit "ramalan", bisa berubah jadi kekacauan ekonomi dan sosial.

Badan Meteorologi Jepang telah merilis peringatan publik sejak April, menegaskan bahwa tidak ada dasar ilmiah untuk meramalkan gempa secara pasti.

Namun sampai hari ini, banyak warga yang tetap menolak keluar rumah pada tanggal 5 Juli.

"Saya tetap percaya mimpi itu bisa jadi pertanda," kata salah satu warga Tokyo yang diwawancarai media lokal.

Fiksi bisa memberi harapan, inspirasi, bahkan trauma.

Dalam kasus ini, The Future I Saw menunjukkan bahwa ketakutan kolektif bisa menular lebih cepat daripada gempa bumi sendiri.

Jepang sudah siap secara struktur—tetapi belum tentu siap menghadapi kekuatan narasi yang mengguncang nalar.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#tokara quake #ramalan gempa #manga jepang #the future i saw #gempa 5 juli 2025