LombokPost - Di usia genap 100 tahun, Tun Dr Mahathir Mohamad masih terlihat segar, bugar, dan tetap aktif.
Mantan Perdana Menteri Malaysia ini mengungkapkan bahwa salah satu rahasia sehat Mahathir adalah berpikir positif atau dalam istilah Islam dikenal sebagai husnuzon.
Dalam berbagai wawancara dengan media internasional seperti ABC Australia, Business Times Singapura, hingga portal gaya hidup Vealthme.com, Mahathir menjelaskan bahwa berpikir positif, disiplin dalam hidup, dan menjaga aktivitas mental menjadi kunci tetap sehat di usia lanjut.
“Kuncinya adalah disiplin. Saya tidak makan berlebihan, saya hindari stres, dan saya tetap berpikir positif,” ujar Mahathir dalam wawancara bersama Wake Up Singapore.
Tidak hanya itu, Mahathir di usia 100 tahun masih rutin menulis blog, membaca, bahkan meluncurkan podcast yang menarik ratusan ribu pendengar.
Baru-baru ini, ia juga mencoba sendiri mobil listrik Proton eMas 7 dan membagikan ulasannya kepada publik. Ini menunjukkan bahwa Tun Dr Mahathir tetap relevan dan produktif meski sudah berusia satu abad.
Mahathir menyampaikan bahwa menjaga kesehatan mental adalah bagian penting dari gaya hidupnya.
Ia menghindari amarah, memaafkan dengan cepat, dan tidak membiarkan hal-hal negatif tinggal terlalu lama dalam pikirannya.
“Husnuzon itu menenangkan, menjaga hati dan pikiran tetap bersih. Itu sangat penting agar tetap sehat,” ucap Mahathir, dikutip dari wawancara Radio Nasional Australia.
Dari segi fisik, Mahathir memilih gaya hidup yang sederhana. Ia hanya makan dua kali sehari dalam porsi kecil, rutin berjalan kaki, serta menghindari rokok dan alkohol.
Menurutnya, umur panjang bukanlah keajaiban, tapi hasil dari kebiasaan baik yang dilakukan konsisten sejak muda.
“Jangan tunggu tua untuk mulai sehat,” ujarnya tegas.
Kini di usia 100 tahun, Tun Dr Mahathir bukan hanya simbol umur panjang, tapi juga bukti bahwa berpikir positif, disiplin, dan tetap produktif adalah kombinasi yang membawa kesehatan dan kejernihan pikiran.
Sebuah pelajaran berharga, tak hanya untuk warga Malaysia, tapi juga dunia. (***)
Editor : Alfian Yusni