Ilmuwan nuklir dan cendekiawan muslim Agus Mustofa menjelaskan ruh bukan ciptaan, melainkan resonansi sifat-sifat ketuhanan yang dibatasi dalam tubuh manusia.
LombokPost – Di tengah maraknya kekacauan istilah seputar jiwa, ruh, dan jasad dalam wacana spiritualitas modern, Agus Mustofa memberikan klarifikasi penting yang bersandar pada Alquran.
Dalam sebuah kajian filsafat ruhaniah, ia menyampaikan bahwa ruh bukan diciptakan, tetapi ditiupkan oleh Allah dan sifatnya netral.
“Nah, yang kemudian menjadi misterius adalah ruh itu, yang oleh Alquran (mengatakan) memang kalian tidak diberi ilmunya kecuali sedikit,” kata Agus Mustofa.
“Tetapi kalau kita mengambil dari yang sedikit itu di dalam Alquran, maka kita mendapatkan gambaran bahwa ruh itu tidak diciptakan. Ruh itu ditularkan, diresonansikan, dihembuskan, ditiupkan — apapun namanya — yang membawa sifat-sifat ke-Tuhanan,"
Agus Mustofa menjelaskan, ruh adalah sistem informasi, bukan makhluk yang bisa dinilai baik atau buruk. Ruh membawa potensi murni yang berasal dari sifat-sifat Allah.
“Ruh itu adalah potensi. Potensi melihat. Kenapa? Karena Allah memiliki sifat Maha Melihat. Potensi mendengar. Karena Allah memiliki sifat Maha Mendengar. Potensi berkehendak,"
Ia menekankan, sifat-sifat seperti melihat, mendengar, dan berkehendak — semua itu netral dalam bentuk ruhiah, dan baru menjadi baik atau buruk ketika sudah dioperasikan oleh manusia.
Maka ia menekankan, pandangan yang menyebut ada roh jahat. Agus Mustofa menekankan dalam Islam tidak ada ruh jahat.
“Tidak ada istilah roh jahat. Itu salah kaprah,"
Agus Mustofa memaparkan, jiwa adalah derivasi atau turunan dari ruh yang dibatasi oleh fisik dan norma-norma kemanusiaan.
Ruh adalah sumber potensialnya, sedangkan jiwa adalah bentuk operasionalnya di dalam tubuh manusia.
Baca Juga: Ngeri! 9 Negara Ini Bisa Musnahkan Bumi dalam Hitungan Menit
“Jiwa adalah derivasi dari ruh dalam skala kemanusiaan. Mendengar, iya, tapi terkait dengan berbagai macam keterbatasan fisik,"
Ia mencontohkan, kemampuan seperti intelektualitas, pendengaran, penglihatan, bahkan norma baik dan buruk semuanya dibatasi oleh tubuh fisik manusia.
“Etika normal, baik dan buruk, itu tidak dikenal pada ruh. Karena ruh itu adalah eksistensi ketuhanan, sebagian.”
Agus Mustofa mengutip salah satu frase penting dalam Al-Qur’an sebagai dasar teologis bahwa ruh bukan makhluk biasa, tapi resonansi dari sisi Tuhan.
“Kalimatnya secara gramatika di bahasa Arab, wa nafakhtu fihi min ruhihi — Dan Allah meniupkan sebagian. Min itu sebagian kecil dari ruh-Nya.”
Dengan demikian, manusia diberi bagian kecil dari sifat-sifat ketuhanan, namun tetap dalam skala keterbatasan makhluk.
Agus Mustofa selanjutnya, menyentuh soal kehendak bebas. Ia menegaskan manusia bukan memiliki free will mutlak, tapi hanya sebatas pilihan dalam batasan tertentu.
“Punya kehendak tapi terbatas. Bukan tidak terbatas, karena dia hanya free choice sebetulnya, bukan free will.”
Manusia, katanya, memiliki kemampuan untuk mencipta, merancang, dan memilih. Tapi semua itu dalam skala terbatas, sebagai ciptaan.
Agus Mustofa menutup penjelasannya dengan menyatakan, seluruh kemampuan ruhaniyah — mendengar, melihat, berpikir, mencipta — adalah netral.
“Ruh itu sifatnya sekedar potensi dan tidak terikat sistem nilai. Anda tidak bisa menilai ruh baik atau buruk,"
Misalnya, mendengar bukanlah baik atau buruk dengan sendirinya.
Tapi ketika seseorang mendengar keburukan lalu menyebarkannya, maka efeknya menjadi buruk. Sebaliknya, jika digunakan untuk kebaikan, maka menjadi baik.
Baca Juga: Agus Mustofa: Kalau Nuklir Ditekan, Bumi Bisa Gelap dan Manusia Punah
“Sifat mendengar itu netral. Sifat melihat itu netral. Kehendak itu netral. Semua itu netral dalam bentuk potensi ruhiah,"
Barulah ketika masuk ke sistem manusia, muncul konteks baik-buruk, bermanfaat-tidak bermanfaat, dan seluruh norma kemanusiaan lainnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin