Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bak Hujan Api, Iran Dilanda Gelombang Panas Hingga Cuaca Ekstrim Capai 50 Derajat Celcius

Fratama P. • Kamis, 7 Agustus 2025 | 18:48 WIB
Cuaca ekstrem hingga masalah listrik di Iran
Cuaca ekstrem hingga masalah listrik di Iran

LombokPost - Warga Iran tengah menghadapi krisis listrik yang parah, dengan pemadaman listrik yang bisa berlangsung hingga empat jam per hari di berbagai kota, termasuk ibu kota Teheran.

Kondisi ini diperparah oleh gelombang panas ekstrem yang mencapai 50 derajat Celsius, menciptakan situasi yang sangat sulit bagi masyarakat Iran.

Pemadaman listrik di Iran ini sering terjadi dua kali sehari, masing-masing berdurasi dua jam, dan kerap kali tanpa pemberitahuan resmi.

Meskipun Kementerian Energi Iran mengklaim bahwa durasi pemadaman dibatasi maksimal dua jam sehari, kenyataan di lapangan jauh berbeda.

Perbedaan informasi antara pernyataan pemerintah dan kondisi sebenarnya ini memicu frustrasi publik yang meluas, terutama karena kerugian ekonomi yang ditimbulkan, seperti rusaknya alat elektronik dan kerugian bagi usaha kecil.

Di media sosial, banyak pengguna mengeluhkan jadwal pemadaman yang tidak teratur dan distribusi yang dianggap tidak adil.

Informasi dari saluran resmi pemerintah dinilai tidak akurat dan tidak mencerminkan kondisi riil yang dihadapi warga.

Kemarahan publik memuncak di kota Fereydunkenar, Provinsi Mazandaran, pada Senin (4/8), ketika sekelompok warga menggelar protes di depan kantor distribusi listrik lokal.

Sebuah video yang beredar memperlihatkan seorang pemilik toko yang frustrasi karena terpaksa membuang dagangan buah-buahannya setiap hari.

Kerugian ini membuatnya kesulitan untuk membayar sewa dan gaji karyawan.

Aksi protes serupa juga terjadi di kota Sabzevar dan Khomam, di mana warga menuntut solusi atas krisis listrik yang terus-menerus.

Meskipun Kementerian Energi Iran telah berjanji untuk membatasi durasi pemadaman, pemadaman gelombang kedua justru sering terjadi pada jam istirahat dan jam puncak konsumsi.

Hal ini semakin membingungkan publik, terutama karena pemadaman ini tidak tercatat dalam sistem pelaporan resmi pemerintah, "Bargh-e-Man".

Kekacauan informasi juga terlihat dari adanya perbedaan sumber pemberitahuan jadwal pemadaman, yang terkadang disampaikan oleh dewan kota atau pemerintah daerah, bukan dari Kementerian Energi.

Krisis listrik di Iran merupakan hasil dari berbagai masalah struktural yang telah lama terjadi.

Infrastruktur pembangkit listrik yang menua, sanksi internasional yang menghambat impor suku cadang, dan lonjakan permintaan listrik yang drastis akibat penggunaan pendingin udara di musim panas menjadi penyebab utama.

Pemadaman listrik yang terjadi bersamaan dengan gelombang panas ekstrem ini semakin memperlihatkan kegagalan pemerintah dalam menjamin kebutuhan dasar warga Iran di tengah situasi darurat iklim.***

Editor : Fratama P.
#Listrik #iran #Cuaca Ekstrem