LombokPost - Jelang pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada 15 Agustus mendatang, ketegangan diplomatik meningkat.
Para pemimpin Eropa menyerukan agar mereka tidak dikesampingkan, khususnya nasib Ukraina yang selama tiga tahun jadi korban invasi Rusia.
Para pemimpin Eropa khawatir, jika Ukraina tidak dilibatkan dalam pertemuan di Alaska, maka negara itu tidak akan memiliki pengaruh terhadap hasil kesepakatan yang dibuat Trump dan Putin.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin dari Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Polandia, dan Finlandia juga menyuarakan penolakan terhadap perubahan batas wilayah secara sepihak.
”Eropa harus menjadi bagian dari solusi karena keamanan mereka juga dipertaruhkan,” tulis Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam unggahan di platform X seperti dilansir dari AFP Minggu (10/8).
Macron juga menegaskan bahwa masa depan Ukraina tidak bisa ditentukan tanpa keterlibatan Ukraina.
”Rakyat Ukraina telah berjuang lebih dari tiga tahun demi kebebasan dan keamanan mereka sendiri,” tegasnya.
Minta Perang Diakhiri dengan Adil
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pun menyampaikan terima kasih kepada para sekutu atas dukungan mereka.
Dia juga meminta akhir dari perang harus adil. ”Saya berterima kasih kepada semua pihak yang berdiri bersama Ukraina hari ini demi perdamaian dan keamanan di Eropa,” ucapnya dalam pernyataan resmi kemarin.
Zelensky juga menekankan perdamaian sejati harus disertai fondasi keamanan yang kuat.
Dalam percakapan telepon dengan Macron, dia menegaskan bahwa dunia harus memastikan Rusia tidak kembali menipu komunitas internasional.
”Bocoran” Trump Picu Reaksi
Sebelum pertemuan dengan Putin di Alaska, Trump memicu reaksi keras dari Ukraina dan sekutu Eropa karena ”bocoran” yang diungkapkannya.
Tanpa mengungkap rincian kesepakatan, Trump menyebut pertemuan itu bisa menghasilkan pertukaran wilayah yang saling menguntungkan.
Menurut laporan The Wall Street Journal, pihak Eropa telah menyampaikan usulan balasan (counter-proposal) yang berisi sejumlah syarat.
Di antaranya, gencatan senjata harus dilakukan terlebih dahulu sebelum langkah lain diambil.
Selain itu, pertukaran wilayah hanya dapat terjadi jika bersifat timbal balik, serta disertai jaminan keamanan yang konkret.
Bersikukuh Pengakuan atas Klaim Wilayah
Hal itu mengingat Putin disebut telah menawarkan penghentian perang.
Namun, dengan syarat Ukraina harus menyerahkan wilayah-wilayah di bagian timur yang saat ini dikuasai Rusia.
Putin juga menuntut pengakuan internasional atas klaim tersebut.
Beberapa wilayah yang dimaksud antara lain Luhansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia.
JALAN PANJANG PERTEMUAN DI ALASKA
12 Februari 2025
Presiden AS Donald Trump melakukan panggilan telepon resmi pertama dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sejak kembali menjabat. Kedua pemimpin menyepakati jalur diplomasi melalui pertemuan delegasi di Arab Saudi.
18 Februari 2025
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Arab Saudi untuk membentuk kerangka perundingan damai.
18 Maret 2025
Trump dan Putin kembali berkomunikasi melalui telepon, menghasilkan kesepakatan awal mengenai gencatan senjata terbatas, khususnya terkait infrastruktur energi.
25 April 2025
Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bertemu dengan Putin. Itu merupakan kunjungan kelima sejak awal tahun, menunjukkan intensitas diplomasi AS-Rusia.
15 Mei 2025
Diplomat dari AS, Ukraina, dan Rusia bertemu di Turki untuk pembicaraan tiga pihak guna menjembatani tuntutan masing-masing pihak.
1 Agustus 2025
Trump menetapkan tenggat waktu bagi Rusia untuk menyepakati gencatan senjata penuh. Sebagai tekanan, AS menjatuhkan sanksi sebesar 25 persen terhadap India, yang dianggap memperkuat posisi Rusia melalui pembelian minyak.
6 Agustus 2025
Witkoff kembali melakukan beberapa kunjungan ke Moskow untuk membahas teknis perundingan.
Dalam salah satu kunjungan, Witkoff mengusulkan pertemuan trilateral yang melibatkan Trump, Putin, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Namun, Rusia lebih memilih pertemuan bilateral.
8 Agustus 2025
Trump memilih melanjutkan diplomasi dengan mengumumkan pertemuan langsung di Alaska pada 15 Agustus nanti. Pengumuman itu dikonfirmasi oleh Kremlin.
(han/dns/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida