LombokPost - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah melakukan pembelian obligasi senilai lebih dari $100 juta sejak kembali menjabat, menurut dokumen pengungkapan keuangan terbaru yang diserahkan kepada Kantor Etika Pemerintah AS (OGE).
Dikutip dari laporan CNBC, dalam dokumen setebal 33 halaman yang diajukan pada 12 Agustus, Trump merinci 690 transaksi keuangan yang dilakukan sejak ia menjabat. Dokumen tersebut kemudian dipublikasikan kepada publik pada hari Selasa.
Dokumen yang diajukan menunjukkan bahwa Trump secara aktif mengalokasikan dananya ke dalam berbagai jenis obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah, distrik utilitas, dan perusahaan-perusahaan besar AS, termasuk di antaranya T-Mobile.
CNBC menghitung bahwa total nilai investasinya mencapai sedikitnya $100 juta, dengan asumsi nilai minimal dari setiap transaksi yang terdaftar.
Di antara entitas penerbit obligasi tersebut terdapat distrik gas, distrik penyedia air, otoritas rumah sakit, dewan sekolah, serta sejumlah korporasi besar. Misalnya, Trump membeli obligasi yang diterbitkan oleh T-Mobile dengan kisaran nilai antara $500.000 hingga $1.000.000.
Sesuai dengan regulasi federal, presiden, wakil presiden, dan pejabat terpilih lainnya diwajibkan secara berkala melaporkan “transaksi yang wajib dilaporkan” kepada OGE. Namun, aturan ini tidak mengharuskan nilai pasti dari setiap transaksi disebutkan, hanya dalam kisaran nilai. Belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih atas laporan tersebut. CNBC sendiri telah mengajukan permintaan komentar, tetapi belum menerima jawaban.
Obligasi merupakan instrumen utang yang digunakan oleh pemerintah, perusahaan, dan organisasi lainnya untuk menggalang dana. Dana tersebut biasanya digunakan untuk pembiayaan proyek-proyek infrastruktur, pertumbuhan bisnis, refinancing utang, atau sekadar menjaga stabilitas keuangan.
Investor seperti Trump yang membeli obligasi akan menerima pembayaran bunga secara berkala, dan pada akhir masa obligasi, mereka akan mendapatkan kembali jumlah pokok pinjaman. Ini merupakan strategi investasi umum bagi investor dengan portofolio besar dan bertujuan untuk pendapatan stabil jangka menengah hingga panjang.
Namun, keterlibatan seorang presiden dalam transaksi obligasi bernilai besar memunculkan kekhawatiran mengenai potensi konflik kepentingan, terutama jika obligasi tersebut diterbitkan oleh perusahaan atau lembaga yang mungkin terdampak oleh kebijakan yang diambil sang presiden.
Menurut Forbes, kekayaan bersih Donald Trump saat ini diperkirakan mencapai $5,5 miliar, meningkat tajam dibandingkan dengan $2,1 miliar pada akhir masa jabatan pertamanya sebagai presiden pada tahun 2020.
Periode antara dua masa jabatannya bahkan disebut Forbes sebagai “masa pasca-presiden paling menguntungkan dalam sejarah AS”, berkat berbagai usaha bisnis yang ditujukan pada basis pendukungnya.
Selama masa jabatannya sebelumnya, Trump kerap dituduh oleh lawan politiknya terlibat dalam konflik kepentingan, terutama karena ia tidak melepaskan sepenuhnya kendali atas bisnis-bisnis miliknya—berbeda dengan presiden-presiden AS terdahulu.
Meskipun undang-undang federal memang membebaskan presiden dan wakil presiden dari sebagian besar aturan konflik kepentingan yang berlaku bagi pejabat federal, para pendahulu Trump umumnya memilih melepaskan atau mendivestasikan aset bisnis pribadi mereka sebagai bentuk komitmen terhadap etika jabatan publik.
Organisasi pemantau etika Citizens for Responsibility and Ethics in Washington (CREW) menyebutkan bahwa Trump adalah presiden modern pertama yang tidak memisahkan diri secara penuh dari kepentingan bisnisnya saat menjabat.
Editor : Siti Aeny Maryam