Serangan ini merupakan bagian dari upaya militer Israel untuk merebut kembali sisi utara kota. Selain menghadapi desingan peluru, penduduk sipil juga dilanda kelaparan akibat blokade yang diterapkan Israel.
Penduduk yang menjadi korban dalam serangan Israel ini mengaku diliputi kepanikan dan ketidakpastian.
"Kami tidak tahu harus ke mana," kata seorang pengungsi Palestina, Marwan al-Safi. Pernyataan ini disampaikan pada hari yang sama ketika Menteri Luar Negeri Amerika, Marco Rubio, bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Kementerian Kesehatan setempat melaporkan bahwa dua warga Palestina di Gaza meninggal karena kekurangan gizi, menambah total korban meninggal akibat kelaparan menjadi 422 orang. Angka ini mencerminkan dampak parah dari blokade yang memutus akses bantuan kemanusiaan.
Di dalam negeri Israel, kritik terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu semakin meningkat. Einav Zangauker, ibu dari tawanan Israel, Matan Zangauker, menyalahkan Netanyahu atas kegagalan mencapai kesepakatan pembebasan sandera.
"Mengapa Perdana Menteri bersikeras menggagalkan kesepakatan apapun yang hampir terwujud," katanya.
Di luar isu konflik, Benjamin Netanyahu juga menghadapi masalah hukum di dalam negeri, di mana ia dituduh melakukan korupsi. Kritik dari keluarga sandera dan situasi kemanusiaan di Gaza semakin menekan posisi politik Netanyahu di tengah eskalasi konflik yang berkelanjutan.
Editor : Redaksi Lombok Post