Pujian itu disampaikan Trump di sela-sela pertemuan multilateral terkait Timur Tengah di Ruang Konsultasi Dewan Keamanan PBB, Selasa (23/9) waktu setempat. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para pemimpin negara Arab dan Muslim, termasuk dari Mesir, Indonesia, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab.
Awalnya, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menyampaikan kepada Trump mengenai kondisi Gaza yang memprihatinkan dan meminta dukungan untuk mengakhiri perang. Trump kemudian menoleh ke Presiden Prabowo yang duduk di samping Emir Qatar.
"And you too, my friend. Great speech. You did a great job, pounding on that table," kata Trump.
"Pounding on that table" yang dimaksud Trump adalah aksi Prabowo menggebrak podium ketika berpidato. Dengan gaya khasnya yang penuh semangat, Prabowo mengajak para pemimpin negara untuk mengakui Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat. Ia juga menegaskan kembali konsep solusi dua negara (two-state solution) untuk mengakhiri kekerasan di Gaza.
Trump menilai pidato Prabowo penuh ketegasan dan energi, serta mampu menarik perhatian para pemimpin dunia.
Apresiasi ini dinilai bukan hanya pujian pribadi, tetapi juga pengakuan dunia atas posisi strategis Indonesia dalam diplomasi global. Penempatan Prabowo sebagai pembicara ketiga dalam Sidang Majelis Umum PBB juga memperkuat pandangan tersebut.
Dalam pidatonya, Prabowo tidak hanya menyinggung soal perdamaian dunia, tetapi juga krisis iklim dan ketahanan pangan. Ia menekankan bahwa Indonesia sedang berupaya mengembangkan rantai pasok yang tangguh, memperkuat produktivitas petani, dan berinvestasi di sektor pertanian.
“Untuk memastikan ketahanan pangan bagi anak-anak kami dan anak-anak dunia. Kami yakin dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia,” ucapnya.
Bahas Solusi Akhiri Kekerasan di Gaza
Seperti dilansir dari Al Jazeera, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyambut baik pertemuan dengan Trump dan negara-negara Islam. Ia menilai pertemuan tersebut sangat bermanfaat.
Sebelumnya, Trump mengungkapkan bahwa negara-negara muslim dan Arab mengajukan proposal untuk mengirim pasukan perdamaian ke Gaza.
Tujuannya adalah memfasilitasi penarikan pasukan Israel dan mengamankan pendanaan untuk program transisi serta pembangunan kembali Gaza.
Meskipun Israel tidak ikut serta dalam pertemuan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan telah diberi informasi terkait rencana yang dibahas.
Israel diperkirakan akan mempertimbangkan keterlibatan Otoritas Palestina di masa mendatang, meskipun sebelumnya menolak keras hal tersebut. Hamas, kelompok yang berkuasa di Gaza, tidak mendapat peran dalam rencana tersebut karena AS dan Israel menuntut agar kelompok itu dilucuti.
Pernyataan Sensitif soal Solusi Dua Negara
Di sisi lain, tidak semua pihak sepakat dengan pernyataan Prabowo mengenai pengakuan Indonesia terhadap Israel jika Israel mengakui kemerdekaan Palestina. Pengamat Timur Tengah, Faizal Assegaf, menilai pernyataan ini sangat sensitif. Ia menyebut pernyataan serupa pernah disampaikan Prabowo sebelumnya, dan hal ini memicu perdebatan di kalangan aktivis Palestina dan Kementerian Luar Negeri.
"Ini merupakan pernyataan yang sangat sensitif dan sempat ramai di kalangan aktivis Palestina, bahkan di Kemenlu sendiri. Karena kita tahu selama ini tidak pernah ada embel-embel dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara dengan juga mensyaratkan akan mengakui Israel,” paparnya.
Menurut Faizal, konsep solusi dua negara memang hasil kesepakatan negara-negara Arab dalam KTT Liga Arab di Beirut tahun 2022. Saat itu, negara-negara Arab siap mengakui Israel jika Israel mengakui kemerdekaan Palestina.
Namun, Faizal menegaskan, dukungan terhadap solusi dua negara bukan berarti Indonesia wajib mengakui Israel setelah Palestina merdeka dan berdaulat. "Apakah pengakuan Indonesia terhadap Israel akan membawa manfaat besar bagi rakyat indonesia itu sendiri?," tanyanya.(*)
Editor : Redaksi Lombok Post