Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pemimpin Hamas Klaim AS dan Mediator Jamin Berakhirnya Perang Gaza Secara Permanen

Redaksi Lombok Post • Jumat, 10 Oktober 2025 | 10:46 WIB

Para Pejuang Hamas./AP News
Para Pejuang Hamas./AP News
LombokPost -- Pemimpin Hamas, Dr. Khalil al-Hayya, mengumumkan dimulainya gencatan senjata permanen di Gaza, menegaskan bahwa para mediator, termasuk pemerintahan AS, telah memberikan jaminan bahwa perang Israel-Hamas telah berakhir secara definitif.

Pengumuman ini disampaikan dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis malam.

“Kami telah menerima jaminan dari saudara-saudara kami, para mediator, dan pemerintahan AS, semua menegaskan bahwa perang telah berakhir sepenuhnya,” kata al-Hayya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada rakyat Gaza atas ketahanan luar biasa mereka dalam menghadapi apa yang ia sebut sebagai perang genosida Israel.


Al-Hayya mendesak koordinasi berkelanjutan dengan faksi-faksi nasional dan Islam untuk memastikan implementasi sukses langkah-langkah yang tersisa dalam perjanjian.

Perjanjian gencatan senjata ini menguraikan sejumlah tindakan segera, termasuk penarikan pasukan Israel dari Gaza, pembukaan kembali perlintasan Rafah, dan pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

Aspek penting dari gencatan senjata ini adalah pertukaran tawanan, yang melibatkan pembebasan 250 warga Palestina yang menjalani hukuman seumur hidup dan 1.700 lainnya yang ditahan sejak 7 Oktober 2023.

Hamas menuntut pembebasan pemimpin Fatah yang dipenjara, Marwan Barghouti, serta tahanan terkemuka lainnya seperti Sekretaris Jenderal PFLP Ahmad Saadat dan insinyur utama Brigade Qassam, Abdullah Barghouti. Hamas juga menuntut pengembalian jenazah pemimpin Hamas yang dibunuh, Yahya Sinwar, dan adiknya.


Pengumuman al-Hayya mengikuti rencana gencatan senjata 20 poin yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Rencana ini mencakup pembebasan semua tawanan Israel, pembentukan badan pemerintahan baru di Gaza yang tidak melibatkan Hamas, dan pasukan keamanan yang terdiri dari warga Palestina serta pasukan dari negara-negara Arab dan Islam.

“Kami menangani rencana presiden AS dengan tanggung jawab tinggi, dan memberikan respons yang bermanfaat bagi rakyat kami dan mencegah pertumpahan darah lebih lanjut,” kata al-Hayya. Meskipun pasukan Israel akan memulai penarikan bertahap dari Jalur Gaza, garis penarikan selama fase awal masih belum jelas.(*)

Editor : Redaksi Lombok Post
#gencatan senjata #hamas #Israel #gaza #Palestina