Barghouti, seorang tokoh politik Palestina terkemuka dan figur penyatu, dianggap sebagai kandidat utama untuk dipertukarkan dengan tawanan Israel yang ditahan di Gaza.
Sumber yang dekat dengan tahanan Palestina tersebut mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Barghouti adalah nama kunci yang dituntut oleh Hamas.
Penghapusan namanya, bersama dengan pemimpin penting lain seperti Ahmad Saadat dan Hassan Salama, dapat mempersulit negosiasi gencatan senjata saat para pihak berupaya memulihkan inclusion mereka.
Menurut sumber tersebut, mediator, termasuk utusan AS Steve Witkoff, telah menyetujui inclusion Barghouti. Namun, juru bicara Israel kemudian menyatakan bahwa ia tidak akan termasuk dalam pembebasan.
Kebebasan Marwan Barghouti merupakan isu krusial yang dapat mengancam pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu karena ia menghadapi penolakan keras dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.
Ben-Gvir, yang sebelumnya secara publik mengancam Barghouti di penjara, secara terang-terangan berkata:
“Siapa pun yang mengganggu rakyat Israel, siapa pun yang membunuh anak-anak kami, siapa pun yang membunuh wanita kami, kami akan menghancurkan mereka. Kalian tidak akan mengalahkan kami.”
Barghouti sendiri sedang menjalani lima hukuman seumur hidup karena perannya dalam upaya perlawanan Palestina.
Barghouti, yang ditahan sejak 2002 dan saat ini dalam isolasi, merupakan tokoh senior di Fatah dan tetap populer di kalangan Palestina.
Survei menunjukkan ia akan dengan mudah memenangkan pemilihan presiden jika diberi kesempatan. Baik Mesir maupun Qatar telah mendesak pembebasannya sebagai bagian dari pembicaraan gencatan senjata.
Pembebasan Barghouti telah menjadi permintaan lama dari kelompok perlawanan dan dianggap sebagai pemimpin potensial yang mampu menyatukan faksi-faksi Palestina yang terpecah.
Namun, ironisnya, pejabat senior Otoritas Palestina pada Mei 2024 dikabarkan memberi tahu mediator bahwa mereka tidak setuju dengan pembebasan Barghouti. Istri Barghouti saat ini aktif melakukan lobi terhadap negosiator di Kairo untuk memasukkan namanya kembali ke dalam perjanjian.(*)
Editor : Redaksi Lombok Post