Menurut laporan Al Jazeera, delegasi Pakistan dalam perundingan tersebut dipimpin oleh Menteri Pertahanan Khawaja Asif, didampingi oleh Kepala Badan Intelijen Letnan Jenderal Asim Malik. Sementara itu, perwakilan Afghanistan terdiri dari Menteri Pertahanan Mullah Muhammad Yaqoob dan Kepala Intelijen Mullah Abdul Haq Wasiq.
Perundingan Setelah Pertempuran Perbatasan
Perundingan ini berlangsung hanya beberapa jam setelah terjadi pertempuran udara, artileri, dan darat di perbatasan kedua negara, di sepanjang 2.640 kilometer Garis Durand yang disengketakan.
"Perundingan bertujuan mengakhiri terorisme lintas batas terhadap Pakistan yang berasal dari Afghanistan dan memulihkan perdamaian dan stabilitas di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan," kata Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, seperti dilansir dari Geo News.
Pakistan secara khusus meminta pemerintah de facto Taliban Afghanistan untuk menghormati komitmen global mereka dan mengambil tindakan tegas terhadap teroris Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) yang beroperasi dari wilayah Afghanistan. "Pakistan menginginkan perdamaian, bukan konflik," imbuh Kementerian Luar Negeri Pakistan, dikutip dari Pakistan Observer.
Hubungan Diplomatik yang Memburuk
Secara diplomatik, Pakistan adalah satu dari hanya tiga negara—bersama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—yang mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan pada 1997.
Namun, kekerasan yang dilakukan oleh kelompok teroris, terutama TTP, di Pakistan telah secara signifikan memperburuk hubungannya dengan Taliban Afghanistan, yang kembali berkuasa di Kabul setelah penarikan pasukan pimpinan AS pada 2021.
Di sisi lain, juru bicara Taliban Afghanistan Zabihullah Mujahid sebelumnya membantah telah memberi perlindungan kepada militan TTP untuk menyerang Pakistan. Ia justru menuduh militer Pakistan menyebarkan informasi yang salah tentang Afghanistan.
TTP sendiri merupakan aliansi beberapa kelompok teror yang dibentuk pada 2007 dengan target menyerang Pakistan. Sebuah laporan PBB tahun lalu memperkirakan terdapat 6.000–6.500 teroris TTP di Afghanistan yang dilaporkan telah menggunakan senjata-senjata NATO yang terbengkalai.
Editor : Redaksi Lombok Post