LombokPost - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menudingnya sebagai “pembenci Yahudi” dan mengancam memotong dana federal jika dia terpilih. Investor kelas kakap Bill Ackman menyumbangkan USD 1 juta (sekitar Rp 16,7 miliar) untuk pihak yang menentangnya. Media kanan seperti New York Post pun melakukan kampanye hitam yang sama.
Namun, Zohran Mamdani tetap tak terbendung untuk mencatat sejarah. Politikus Partai Demokrat kelahiran Kampala, Uganda, 34 tahun lalu itu menjadi muslim pertama yang memimpin New York City, kota terbesar di AS secara populasi.
Yang juga membuat raihan anak pasangan akademisi Mahmoud Mamdani dan sineas Mira Nair itu terasa historis, dia seorang aktivis kiri garis keras yang membuat Trump menyerangnya dengan julukan “Komunis Kecil.” Namun, ia tetap bisa menang dalam pemilihan di sebuah kota yang sangat penting, di tengah atmosfer politik AS yang begitu konservatif selama masa pemerintahan Trump.
"Di sini kami percaya untuk membela orang-orang yang kami cintai, entah Anda seorang imigran, anggota komunitas trans, salah satu dari banyak perempuan kulit hitam yang dipecat Donald Trump dari jabatan federal, seorang ibu tunggal yang masih menunggu harga bahan makanan turun, atau siapa pun yang terdesak," ujar Mamdani dalam pidatonya setelah hasil pemilihan menunjukkan, dia tak akan terkejar lagi oleh dua lawannya, calon independen Andrew Cuomo dan kandidat Partai Republik Curtis Sliwa, seperti dikutip dari AFP Rabu (5/11).
Kemenangan Mamdani dalam pemilihan yang berlangsung Selasa (4/11) itu pun menjadi semacam pesan keras kepada Trump dan Partai Republik bahwa gaya kepemimpinannya tidak disukai. Apalagi, di saat yang sama, dua jagoan Trump dan Republik dalam Pemilihan Gubernur Virginia serta New Jersey juga keok dari dua kandidat perempuan Demokrat.
Abigail Spanberger menundukkan Wakil Gubernur Virginia petahana Winsome Earle-Sears, sedangkan Mikie Sherrill menaklukkan Jack Ciattarelli yang di-endorse Trump di New Jersey. Jadi, Trump seperti tertampar tiga kali.
Di antara keduanya, kemenangan Spanberger lebih mengejutkan. Sebab, berbeda dengan New Jersey yang dikenal sebagai blue state alias basis Demokrat, Virginia adalah swing state alias Demokrat dan Republik punya kekuatan seimbang. Spanberger, mantan petinggi CIA, pun menjadi gubernur perempuan pertama Virginia.
Tantangan Mamdani
Setelah dipastikan menang, Mamdani yang terlahir dari ayah dan ibu yang berdarah India itu harus mulai mengalihkan fokus ke bagaimana dia mewujudkan janjinya. Salah satunya adalah menjadikan New York, salah satu kota termahal di dunia, menjadi kota yang lebih terjangkau lewat serangkaian kebijakan radikal.
Mengutip BBC, Mamdani berencana mendanai program sosialnya, antara lain perumahan murah dan penitipan anak, lewat kenaikan pajak perusahaan serta pungutan tambahan dua persen bagi warga terkaya. Namun, langkah itu berpotensi menuai perlawanan dari Gubernur New York Kathy Hochul.
Belum lagi perlawanan dari kalangan pebisnis elite. Apalagi, calon pengganti Eric Adams itu juga belum pernah berpengalaman di lembaga eksekutif, sementara Kota Apel Besar julukan New York City merupakan kota dengan anggaran yang sangat besar.
Profesor politik dari Universitas Syracuse Grant Reeher menilai, tantangan Mamdani tidak ringan. “New York adalah kota yang sulit diatur. Warga menaruh harapan besar, tapi kesabaran mereka bisa terbatas,” ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian.
Trump diperkirakan juga bakal menekannya habis-habisan. “Semua orang Yahudi yang memilih Zohran Mamdani, yang terbukti sebagai pembenci Yahudi, adalah orang bodoh,” tulis Trump di akun Truth Social-nya sebelum pencoblosan.
Namun, semua serangan Trump itu, setidaknya sampai dengan pencoblosan, tak berarti banyak bagi warga New York. Tingkat kehadiran hingga beberapa jam sebelum tempat pemungutan suara ditutup terbilang tinggi, mencapai 1,45 juta orang, yang berarti telah melampaui total kehadiran di Pemilihan Wali Kota New York 2021 yang dimenangi Eric Adams.
Dilema Demokrat
Kemenangan ketiga jagoannya bakal menjadi modal penting bagi Demokrat dalam menyongsong pemilu sela tahun depan. Namun, di sisi lain juga mendatangkan dilema, khususnya terkait Mamdani.
Mamdani jelas telah melambungkan Demokrat, khususnya di hadapan para pemilih muda, dengan gaya kampanyenya yang atraktif dan visi-misi yang mengena. Bisa dibilang, dia politikus Demokrat paling dikenal saat ini.
Namun, pria yang dinaturalisasi sebagai warga AS pada 2018 dan masih memegang paspor Uganda tersebut juga membuat Demokrat berada di persimpangan: apakah akan bergerak jauh ke kiri mengikuti Mamdani, atau tetap menjadi partai tengah seperti selama ini.
“Saya kira, partai ini harus menjadi partai yang memungkinkan semua warga Amerika menjadi bagiannya,” kata Mamdani.
Cuomo, kader Demokrat dan mantan gubernur New York, menyebut bahwa saat ini terjadi “perang saudara” dalam partainya. “Ada sosok kiri radikal yang dipengaruhi aliran sosialis, yang sekarang menantang apa yang mereka sebut sebagai Demokrat moderat. Saya seorang Demokrat moderat,” kata Cuomo setelah mencoblos. (lyn/ttg/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam