Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bumi Makin Panas, 2024 Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah

Akbar Sirinawa • Sabtu, 8 November 2025 | 18:32 WIB
Ilustrasi panas
Ilustrasi panas

 

LombokPost-Dunia kini menghadapi kenyataan bahwa suhu Bumi terus meningkat ke titik tertinggi dalam sejarah.

Laporan terbaru dari World Meteorological Organization (WMO) menyebutkan bahwa tahun 2024 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat di Bumi.

Suhu rata-rata global tahun lalu mencapai 1,55 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan masa praindustri (1850–1900).

WMO menjelaskan, hasil pengamatan dari enam sumber data iklim menunjukkan tren yang sama: suhu Bumi melonjak tajam.

Periode 2015 hingga 2024 kini secara resmi disebut sebagai dekade terpanas sepanjang sejarah. Peningkatan suhu ini berdampak besar terhadap kehidupan manusia, mulai dari cuaca ekstrem, kebakaran hutan, kekeringan, hingga naiknya permukaan air laut.

Menurut laporan Anadolu Agency (AA), penyebab utama meningkatnya panas global adalah akumulasi gas rumah kaca di atmosfer.

Gas seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O) terus meningkat akibat pembakaran bahan bakar fosil, penebangan hutan, serta aktivitas industri.

Akibatnya, panas dari sinar matahari terperangkap di atmosfer dan membuat suhu global terus naik.

Tak hanya udara, laut pun ikut memanas. Suhu permukaan air laut pada 2024 tercatat paling tinggi sepanjang sejarah pengamatan.

Peningkatan panas laut ini memicu pencairan es di kutub dan mengubah pola cuaca dunia. Dampaknya, badai, banjir, dan kekeringan terjadi lebih sering dan lebih parah dibandingkan sebelumnya.

Kondisi ekstrem tersebut dirasakan miliaran orang di seluruh dunia. Berdasarkan laporan Euronews Green, sekitar 4 miliar orang mengalami sedikitnya satu bulan tambahan suhu panas ekstrem sepanjang tahun 2024.

Cuaca panas ekstrem menyebabkan banyak orang mengalami kelelahan, dehidrasi, bahkan kematian akibat suhu tinggi.

Beberapa negara menghadapi dampak yang lebih berat. Di India, suhu mencapai lebih dari 50°C, sementara di sejumlah wilayah Eropa dan Afrika, musim panas berlangsung lebih lama dari biasanya.

Kondisi ini mengganggu sektor pertanian, kesehatan, serta pasokan air bersih. Banyak tanaman gagal panen akibat kekeringan dan sejumlah wilayah menghadapi krisis air.

Peningkatan suhu juga berlanjut pada awal tahun ini. Berdasarkan laporan Reuters, Mei 2025 menjadi bulan Mei terpanas kedua dalam sejarah dunia.

Data dari Copernicus Climate Change Service (C3S) menunjukkan bahwa 21 dari 22 bulan terakhir mencatat suhu rata-rata global lebih tinggi dari 1,5 derajat Celsius, batas aman yang disepakati dalam Paris Agreement.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan ilmuwan iklim. Mereka memperingatkan, jika dunia tidak segera mengurangi emisi gas rumah kaca, maka suhu global bisa menembus 2 derajat Celsius sebelum tahun 2050.

Kondisi tersebut dapat memicu bencana yang lebih sering terjadi, gagal panen, serta hilangnya keanekaragaman hayati secara masif.

Sekretaris Jenderal WMO, Prof. Celeste Saulo, menegaskan bahwa temuan ini adalah “peringatan keras bagi seluruh dunia.

”Ia menekankan perlunya langkah nyata dari semua negara untuk menekan emisi karbon, beralih ke energi terbarukan, serta memperkuat sistem peringatan dini terhadap bencana iklim.

“Krisis iklim bukan sesuatu yang akan datang, ini sedang terjadi sekarang,” ujar Prof. Celeste Saulo.

Berbagai laporan tersebut menunjukkan bahwa pemanasan global bukan lagi ancaman masa depan, tetapi kenyataan yang tengah kita hadapi. Udara semakin panas, laut memanas, dan cuaca kian sulit diprediksi.

Dunia harus bergerak cepat untuk melindungi bumi dari kerusakan yang lebih parah. Jika tidak, generasi mendatang akan mewarisi planet yang jauh lebih sulit untuk ditinggali.

Editor : Akbar Sirinawa
#tahun terpanas #suhu bumi #Bumi #Cuaca Ekstrem