LombokPost - Kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) ke Gedung Putih berubah panas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meledak emosinya ketika reporter ABC News, Mary Bruce, menyinggung soal 9/11, Khashoggi, dan hubungan bisnis keluarga Trump di Arab Saudi.
Pertanyaan Bruce mengenai dugaan keterlibatan Saudi dalam serangan 9/11 serta pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018 langsung membuat Trump naik pitam.
Ketika ditanya mengapa publik AS harus mempercayai MBS di tengah isu hak asasi manusia dan bisnis keluarga Trump dengan Arab Saudi, Trump memotong tanpa basa-basi.
“Berita bohong. ABC, salah satu yang terburuk,” bentak Trump, sambil menuding Mary Bruce sebagai sumber kegaduhan konferensi pers.
Trump juga menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dalam bisnis keluarganya di Arab Saudi, bahkan menyebut keluarga Trump “hanya sangat sedikit berbisnis” dengan kerajaan kaya minyak tersebut.
AS-Saudi Umumkan Manuver Besar: F-35, Status Sekutu Non-NATO, dan Investasi Triliunan
Di balik tensi yang meninggi, Trump dan MBS membawa agenda besar. Trump mengumumkan rencana penjualan jet tempur F-35 ke Arab Saudi dan menyatakan niat untuk menetapkan Saudi sebagai major non-NATO ally atau sekutu besar non-NATO. Langkah ini disebut sejumlah analis sebagai “pergeseran besar” kekuatan militer di Timur Tengah.
Dari pihak Riyadh, MBS menyampaikan bahwa investasi Saudi ke AS bisa mencapai US$1 triliun, terutama di sektor teknologi, kecerdasan buatan, dan material langka.
Trump Minimalkan Kasus Khashoggi, Media AS Geram
Ketika Mary Bruce kembali menyinggung kasus Jamal Khashoggi, Trump tampak semakin tidak sabar. Ia bahkan menyampaikan pembelaan klasiknya:
“Things happen,” kata Trump sambil menegaskan bahwa MBS “tahu tidak ada apa-apa” soal pembunuhan itu.
Pernyataan tersebut langsung memicu kritik luas dari media AS yang menilai Trump kembali meremehkan isu HAM demi kedekatannya dengan MBS.
Sejumlah kolumnis menulis bahwa Trump “mengorbankan nilai-nilai demokrasi” untuk kepentingan strategis dan ekonomi.
Di tengah kemarahannya, Trump bahkan sempat menyerukan agar lisensi siaran ABC dicabut, sembari menuding media tersebut menyebarkan “berita palsu”.
Respons MBS: “Pembunuhan Itu Sangat Menyakitkan”
Sementara Trump membentak, MBS mengambil nada lebih tenang. Ia menegaskan bahwa pembunuhan Khashoggi adalah “kesalahan besar” yang “sangat menyakitkan” bagi Saudi.
MBS mengatakan pemerintahnya sudah melakukan investigasi internal dan mengambil langkah agar kasus serupa tidak terulang.
Selain itu, MBS juga menyinggung posisi Saudi dalam konflik Israel–Palestina serta kemungkinan bergabung dengan Abraham Accords, namun dengan syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh Israel.
Meski Trump dan MBS menampilkan citra kemitraan yang kuat di depan kamera, suasana di ruang pers menggambarkan hal berbeda.
Pertemuan yang mestinya fokus pada kerja sama militer dan investasi berubah menjadi panggung ketegangan antara Trump dan media, terutama terkait 9/11, Khashoggi, dan hubungan AS–Arab Saudi.
Hingga berakhirnya konferensi pers, Trump tetap keras mengecam media dan menegaskan kembali bahwa hubungan AS–Saudi berada dalam “fase terbaik”. (***)
Editor : Alfian Yusni