Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kronologi Penangkapan Dewi Astutik, Gembong Narkoba Senilai Rp5 Triliun

Rosmayanthi • Selasa, 2 Desember 2025 | 19:34 WIB

Buronan kasus sabu Rp5 Triliun, Dewi Astutik, berhasil ditangkap BNN di Sihanoukville, Kamboja dalam sebuah operasi senyap.
Buronan kasus sabu Rp5 Triliun, Dewi Astutik, berhasil ditangkap BNN di Sihanoukville, Kamboja dalam sebuah operasi senyap.
LombokPost - Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui operasi senyap lintas negara, berhasil meringkus buronan kelas kakap kasus sabu senilai Rp5 Triliun, Dewi Astutik.

Dewi Astutik berhasil ditangkap di Sihanoukville, Kamboja, dan kini telah dibawa ke Indonesia untuk proses hukum lebih lanjut.

Kepala BNN, Komjen Suyudi Ario Seto, dalam konferensi pers pada Selasa, 2 Desember 2025, menjelaskan kronologi penangkapan Dewi Astutik.

Dewi Astutik yang juga menjadi buronan Korea Selatan ditangkap ketika berjalan menuju lobi sebuah hotel di Sihanoukville.

Operasi berlangsung cepat, presisi, dan tidak menimbulkan gangguan publik. 

Langkah-langkah penangkapan Dewi dilakukan melalui proses intelijen dan diplomasi yang panjang. Dari pelacakan panjang dan pemetaan jaringan sejak 2024 hingga 2025.

BNN membentuk tim khusus operasi pengejaran buronan internasional setelah nama Dewi Astutik mencuat dalam kasus heroin 2,76 kilogram pada 2024 dan penyelundupan dua ton sabu melalui KM Sea Dragon Tarawa pada Mei 2025. 

Marthinus Hukom menyebut Dewi Astutik adalah sosok yang berperan sebagai otak perekrutan kurir.

“Maka saya pada kesimpulan, Dewi Astutik memainkan peran penting dalam proses rekrutmen kurir,” ujar Marthinus dalam tayangan Rosi Kompas TV Sabtu (29/5). 

BNN menemukan pola bahwa lebih dari 110 WNI yang ditangkap di berbagai negara seperti Brasil, India, Kamboja, dan Korea, ternyata direkrut oleh Dewi. 

Lalu Analisis intelijen menunjukkan Dewi beroperasi di kawasan Golden Triangle (Laos-Myanmar-Thailand), salah satu pusat produksi opium dan heroin terbesar di Asia Tenggara. 

Dewi Astutik diketahui bergabung dengan sindikat Afrika yang bergerak luas di Thailand, Malaysia, hingga Timur Tengah.

BNN pun lebih berhati-hati karena harus berhadapan dengan sindikasi besar seluruh dunia, dikendalikan oleh Dewi Astutik.

Pada awal 2025, tim intelijen mendeteksi keberadaan Dewi Astutik berpindah antara Thailand dan Kamboja. 

BNN menggandeng BIN luar negeri, BAIS TNI, dan Atase Pertahanan RI di Kamboja untuk mempersempit posisi buronan. 

Setelah pemetaan final (2 Desember 2025), BNN dan Kepolisian Kamboja melakukan operasi senyap. Dewi Astutik diamankan tanpa perlawanan saat menuju lobi hotel.

Direktur Penindakan BNN Brigjen Pol Roy Hardi Siahaan memimpin langsung operasi tersebut atas perintah Kepala BNN. 

Setelah ditangkap, Dewi Astutik dipindahkan ke Phnom Penh untuk verifikasi identitas dan penyerahan resmi antarotoritas.

Setiba di Tanah Air, Dewi Astutik akan menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap alur pendanaan, logistik, hingga struktur jaringan internasional yang mengalirkan narkoba ke Asia Tenggara dan Asia Timur. 

BNN menegaskan bahwa proses penindakan tidak berhenti pada penangkapan semata, tapi akan berlanjut pada pembongkaran seluruh struktur jaringan.

Editor : Siti Aeny Maryam
#BNN #Dewi #kamboja #Sabu #Astutik #Narkoba