Langkah diplomasi tersebut diambil sebagai upaya untuk meredakan ketegangan yang kembali meningkat menyusul bentrokan bersenjata di sepanjang perbatasan kedua negara pada awal Desember lalu.
Kesepakatan ini tercapai setelah para pemimpin negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur dialog.
Dilansir dari Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyatakan bahwa pertemuan bilateral tersebut dijadwalkan berlangsung hari ini, Rabu (24/12/2025), di Chanthaburi, Thailand.
Pertemuan khusus ini merupakan tindak lanjut dari pembicaraan para menteri luar negeri ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, yang berupaya menyelamatkan kesepakatan gencatan senjata.
Sebelumnya, gencatan senjata telah dimediasi oleh Ketua ASEAN Malaysia dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Juli lalu, namun kembali runtuh akibat insiden baku tembak dalam beberapa pekan terakhir.
Perdebatan Mengenai Lokasi Pertemuan
Meskipun telah sepakat untuk bertemu, kedua negara masih berselisih mengenai lokasi penyelenggaraan. Laporan AFP menyebutkan bahwa pihak Kamboja secara resmi meminta agar pertemuan digelar di wilayah netral, yakni Kuala Lumpur, Malaysia.
Menteri Pertahanan Kamboja, Tea Seiha, telah melayangkan surat permohonan kepada Menteri Pertahanan Thailand, Nattaphon Narkhanit, terkait usulan lokasi tersebut.
”Demi alasan keamanan karena pertempuran sedang berlangsung sepanjang perbatasan, pertemuan ini harus diadakan dj tempat yang aman dan netral,” tulis Tea dalam suratnya.
Namun, pihak Thailand tetap bersikukuh agar pertemuan dilaksanakan di Chanthaburi. Menteri Pertahanan Thailand, Nattaphon Narkhanit, menjamin aspek keamanan selama proses delegasi berlangsung.
”Saya ingin sampaikan kepada Kamboja untuk mempercayai kami dalam hal keamanan,” ucap Nattaphon, Selasa (23/12/2025). Kendati demikian, ia menegaskan bahwa militer Thailand akan terus memberikan respons selama pihak Kamboja melakukan serangan.
Situasi Kemanusiaan di Perbatasan
Hingga berita ini diturunkan, situasi di lapangan dilaporkan masih belum sepenuhnya kondusif. Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, menyebutkan bahwa baku tembak masih terjadi di wilayah perbatasan, termasuk penembakan di kota Poipet.
Konflik bersenjata terbaru ini telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang signifikan. Berdasarkan data pejabat setempat, sedikitnya 23 orang tewas di pihak Thailand dan 21 orang di pihak Kamboja. Selain itu, lebih dari 900.000 warga sipil dari kedua sisi perbatasan terpaksa meninggalkan kediaman mereka untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Editor : Redaksi Lombok Post