Politikus berusia 34 tahun tersebut menjadi pimpinan daerah Muslim pertama di kota berjuluk The Big Apple ini.
Dalam prosesi yang berlangsung khidmat tak lama setelah tengah malam, Mamdani melakukan pengambilan sumpah jabatan dengan menggunakan dua mushaf Al-Qur'an sekaligus.
Hal ini menjadi simbol kuat atas integrasi antara nilai spiritual pribadi dan sejarah panjang intelektual Kota New York.
Pemilihan kitab suci yang digunakan dalam pelantikan ini memiliki latar belakang yang mendalam. Mamdani meletakkan tangannya di atas:
Al-Qur'an Warisan Keluarga: Merupakan milik kakeknya yang dibawa sebagai bagian dari identitas keluarga besar Mamdani.
Al-Qur'an Arturo Schomburg: Milik penulis dan sejarawan kulit hitam terkemuka era Harlem Renaissance. Kitab ini dipinjamkan secara khusus oleh Perpustakaan Umum New York (New York Public Library).
Pada upacara publik yang digelar di Balai Kota pada sore harinya, Mamdani kembali menggunakan Al-Qur'an milik kakek dan neneknya.
Penggunaan benda-benda bersejarah tersebut dinilai merefleksikan latar belakang pribadi Mamdani sekaligus keberagaman identitas yang membentuk fondasi sosial masyarakat New York.
Kurator Studi Timur Tengah dan Islam Perpustakaan Umum New York, Hiba Abid, menekankan bahwa pemilihan Al-Qur'an dalam pelantikan ini melampaui sekadar aspek religius.
Mengingat Mamdani lahir di Uganda, Afrika, kehadirannya di kursi nomor satu New York merupakan representasi dari keberhasilan inklusivitas kota tersebut.
Abid bekerja sama dengan penasihat senior Zara Rahim serta istri Mamdani, Rama Duwaji, untuk memastikan aspek historis dari kitab yang digunakan sejalan dengan visi kepemimpinan Mamdani.
“Itu benar-benar menyatukan elemen iman, identitas, dan sejarah New York,” ujar Abid sebagaimana dikutip dari The Telegraph India.
Kehadiran Zohran Mamdani sebagai wali kota diharapkan mampu membawa warna baru dalam kebijakan publik yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan warga New York yang heterogen.
Editor : Redaksi Lombok Post