LombokPost-- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi telah memerintahkan operasi militer yang berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada siang hari waktu setempat, Sabtu (3/1).
Maduro, yang telah memimpin Venezuela selama lebih dari 12 tahun sebagai penerus Hugo Chávez, dibawa ke Metropolitan Detention Center (MDC) di Brooklyn, New York, untuk menunggu persidangan.
Penangkapan ini mengikuti tuduhan lama dari AS terhadap Maduro, mulai dari pelanggaran HAM, manipulasi pemilu, hingga kepemimpinan "narco-state".
Kronologi Serangan dan Penangkapan:
-
Pukul 10.30 ET: Kunjungan pejabat tinggi China ke Venezuela untuk bertemu Maduro.
-
Pukul 13.15 ET: Serangan udara AS dimulai secara mendadak.
-
Pukul 14.40 ET: Presiden Trump secara resmi mengonfirmasi AS yang memerintahkan serangan.
-
Pukul 16.20 ET: Trump mengklaim penangkapan berhasil dan menyiarkan rekaman operasi tersebut.
Baca Juga: Felix Auger-Aliassime dan Victoria Mboko Tampil Dominan, Kanada Libas China 3-0 di United Cup
Trump menggambarkan momen penangkapan seperti "nonton acara TV," disaksikan langsung dari kediamannya di Mar-a-Lago.
Pernyataan ini kontras dengan resolusi "Perdamaian" yang diumumkannya pada perayaan Tahun Baru.
Tujuan dan Dampak Strategis AS:
Presiden Trump dengan terang-terangan menyatakan tujuan ekonomi di balik operasi ini.
"AS akan mengendalikan Venezuela setelah Maduro ditahan," ujarnya.
Dia menekankan bahwa Amerika Serikat akan memanfaatkan dan menjual dalam jumlah besar cadangan minyak Venezuela, yang terbesar di dunia.
"Kami sekarang ada di bisnis minyak," tambah Trump, menandai potensi pergeseran besar dalam pasar energi global.
Selain minyak, Venezuela dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam luar biasa, termasuk emas, bijih besi, bauksit, nikel, mineral langka, dan gas alam.
Kaitkan dengan Isu Narkoba dan Meksiko:
Dalam konferensi pers, Trump menyangkal operasi ini sebagai pesan untuk Meksiko.
Namun, dia menyinggung keras isu perdagangan narkoba, menyebut kartel narkoba "menguasai" Meksiko dan bahwa pemerintahannya berulang kali menawarkan bantuan yang ditolak.
Baca Juga: Kabar Gembira Bagi KPM! Bansos Tahap I 2026 Segera Cair, Nominalnya Hingga Rp 2,1 Juta
Trump mengklaim ratusan ribu kematian di AS disebabkan oleh narkoba yang masuk melalui perbatasan selatan.
Latar Belakang Maduro:
Nicolás Maduro, mantan Wakil Presiden dan Menteri Luar Negeri di era Chávez, dikenal dengan kebijakan yang berseberangan dengan AS dan memiliki aliansi kuat dengan China, Rusia, dan Iran.
Pemerintahan AS sebelumnya menawarkan hadiah $50 juta untuk informasi yang menangkapnya.
Apa Selanjutnya?
Dunia kini menunggu proses hukum terhadap Maduro di pengadilan Amerika Serikat, sambil mengamati dampak geopolitik dan ekonomi dari intervensi AS yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, serta respons dari sekutu-sekutu Maduro seperti China dan Rusia yang baru saja mengadakan pertemuan tingkat tinggi.
Editor : Kimda Farida