LombokPost - Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang diculik Amerika Serikat (AS) memang sudah ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan, Brooklyn, New York, Minggu (4/1).
Dia juga dijadwalkan menjalani sidang pertama di Pengadilan Federal Manhattan hari ini (5/1) dengan tuduhan, versi Gedung Putih tentu saja, terlibat dalam narkoterorisme.
Namun, klaim Presiden AS Donald Trump bahwa negaranya akan mengendalikan negeri di sisi utara Amerika Selatan tersebut setelah Maduro diculik masih kontras dengan situasi di lapangan. Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, yang diplot Trump sebagai pengganti, tegas mengatakan bahwa Presiden Venezuela masih Nicolas Maduro.
Mahkamah Agung (MA) negeri yang beribu kota di Caracas tersebut juga secara spesifik menyebut apa yang terjadi terhadap Maduro sebagai “penculikan.”
“Tujuan agresi militer pada 3 Januari adalah penculikan presiden konstitusional Nicolas Maduro,” kata Ketua Kamar Konstitusi MA Venezuela Tania D’Amelio saat membacakan putusan yang memerintahkan Rodriguez menjadi penjabat presiden, seperti dikutip dari Telesur Minggu (4/1).
Dengan hanya meminta sang wapres sebagai penjabat, MA berarti sepakat dengan Rodriguez yang tetap mengakui Maduro, yang diculik AS pada Sabtu (3/1) di Caracas, yang diwarnai dengan pengeboman di beberapa titik, sebagai presiden.
Tentang kenapa Trump tidak tertarik menjadikan pemimpin oposisi Maria Carina Machado sebagai kandidat, Nobelis Perdamaian 2025 itu dinilai tak punya basis dukungan kuat dan rasa hormat dari masyarakat luas.
Tapi, sikap Gedung Putih bisa saja berubah jika Rodriguez tegas menolak menjadi pengganti Maduro.
“Pada dasarnya, dia bersedia melakukan apa yang menurut kami perlu untuk menjadikan Venezuela hebat kembali,” tutur Trump tentang alasan kenapa lebih memilih Rodriguez, seperti dikutip dari BBC.
Klaim Trump tentang memegang kendali Venezuela juga berbenturan dengan fakta bahwa aset-aset penting negeri penggemar bisbol tersebut masih dalam kendali militer yang setia dengan Maduro.
Penculikan pria yang pernah menjadi sopir bus itu sendiri ternyata sudah dirancang Trump pada periode pertama kepemimpinannya, atau persisnya 2019.
Baca Juga: Denmark dan Greenland Kecam Ancaman Aneksasi Trump Usai Intervensi Venezuela
Tiga Skenario
Invasi ke Venezuela adalah aksi militer paling besar AS di kawasan Amerika Latin sejak aksi serupa ke Panama pada 1989. Kala itu, Negeri Paman Sam tersebut menangkap Manuel Noriega, diktator militer Panama yang sebenarnya binaan intelijen mereka juga.
Pada 2019, Trump dan jajarannya sudah mengadakan simulasi menumbangkan Maduro dengan tiga skenario, dengan ending yang semuanya pahit bagi Venezuela.
Mengutip The Guardian, skenario pertama, mantan menteri luar negeri itu ditumbangkan lewat revolusi rakyat, yang lalu direspons militer dengan menembaki warga sipil.
Skenario kedua, kudeta dari dalam istana yang memaksa Maduro melarikan diri ke pengasingan, yang kemudian akan memicu pertumpahan darah antara yang pro dan kontra dirinya.
Dan, ketiga, Maduro atau kalangan dekatnya dibunuh AS, dan ini bakal memicu kelompok kiri menggalang perlawanan gerilya serta mengamankan sumber daya alam Venezuela.
“Trump sudah lama sangat tertarik pada minyak Venezuela,” kata John Bolton, penasihat keamanan nasional Trump pada 2018-2019, seperti dikutip dari CNN.
Trump menyatakan telah menunjuk orang-orang di kabinetnya untuk bertanggung jawab atas kelangsungan Venezuela. Meski demikian, dia tidak merinci siapa saja yang dimaksud.
Dia juga menunjukkan ketertarikan AS mengelola minyak di negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia tersebut.
"Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah. Kami akan menjual minyak dalam jumlah besar," katanya.
Namun, belum ada perusahaan minyak AS yang bersuara atas peluang untuk menambang minyak di negeri yang sudah menyatakan anti-AS sejak dipimpin Hugo Chavez mulai 1999 itu.
Maduro, yang menggantikan Chavez sejak 2013, meneruskan kebijakan pendahulunya tersebut.
Berbagai Kecaman
Sejumlah pemimpin negara Amerika Latin mengecam tindakan AS. Presiden Brasil Luiz Inácio Lula Da Silva menyebut tindakan Trump tidak bisa diterima.
“Menyerang negara lain yang secara terang-terangan melanggar hukum internasional adalah langkah pertama menuju dunia yang penuh kekerasan,” katanya, seperti ditulis di X.
Kolombia bahkan menyebut serangan terhadap Venezuela itu merupakan serangan terhadap kedaulatan Amerika Latin. Tiongkok yang merupakan sekutu Venezuela juga membela.
Begitu juga Rusia yang menuduh serangan tersebut sebagai agresi bersenjata.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga bakal menggelar pertemuan membahas insiden Venezuela itu hari ini.
“Sangat prihatin bahwa aturan hukum internasional belum dihormati,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Kronologi Penangkapan Presiden Venezuela
3 Januari
- Operasi militer AS di Caracas
- Pengeboman di beberapa titik
- Nicolas Maduro dan Cilia Flores diculik
4 Januari
- Maduro ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan, Brooklyn
- Mahkamah Agung Venezuela menyebut peristiwa sebagai penculikan
5 Januari
- Sidang perdana Maduro di Pengadilan Federal Manhattan
- Tuduhan: narkoterorisme (versi Gedung Putih) (lyn/ttg/JPG/r3)