LombokPost - Israel mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah menyiapkan rencana darurat untuk melarikan diri ke Rusia apabila gelombang unjuk rasa di dalam negeri membesar dan aparat keamanan gagal mengendalikannya.
Klaim tersebut disampaikan mantan pejabat intelijen Israel, Beni Sabti, yang menyebut rencana itu sebagai “opsi terakhir” jika situasi keamanan Iran berada di luar kendali rezim.
Sabti mengatakan Khamenei memiliki kedekatan personal dan politik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, sehingga Moskow dipandang sebagai tujuan paling aman.
“Rusia adalah mitra strategis Iran dan dianggap selaras secara geopolitik maupun budaya oleh elite kekuasaan Teheran,” ujar Sabti, seperti dikutip The Independent.
Bersama 20 Orang Dekat
Menurut laporan itu, Khamenei disebut akan meninggalkan Teheran bersama sekitar 20 orang terdekatnya, termasuk anggota keluarga dan para ajudan. Rencana tersebut akan dijalankan jika militer dan pasukan keamanan mulai membelot atau tidak lagi mematuhi perintah.
Seorang sumber intelijen yang tidak disebutkan namanya menyebut rencana tersebut sebagai “Rencana B” yang juga mencakup putra Khamenei, Mojtaba, yang selama ini disebut-sebut sebagai calon pewaris kekuasaan.
Ekonomi yang Memburuk
Gelombang protes di Iran dipicu oleh anjloknya nilai mata uang nasional serta memburuknya kondisi ekonomi. Kelompok hak asasi manusia mencatat sedikitnya 17 orang tewas dalam aksi unjuk rasa hingga Senin (5/1). Seiring waktu, tuntutan massa meluas dari isu ekonomi menjadi seruan politik untuk menggulingkan Republik Islam.
Sejumlah demonstran dilaporkan meneriakkan slogan “Turunkan Republik Islam” dan “Mati untuk diktator”, yang secara langsung merujuk pada Khamenei. Meski demikian, skala protes saat ini dinilai masih lebih kecil dibandingkan demonstrasi besar pada 2022–2023 pascakematian Mahsa Amini.
Janji Reformasi
Pemerintah Iran menyatakan aksi protes terkait persoalan ekonomi adalah hal yang sah dan akan direspons melalui dialog. Namun, kelompok HAM menuduh aparat keamanan melakukan penindakan brutal serta penargetan warga sipil secara membabi buta.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan dialog nasional dan menjanjikan reformasi untuk menstabilkan sistem moneter serta melindungi daya beli masyarakat. (lyn/gas/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida