LombokPost - Iran seperti menghadapi perang dalam dua front sekaligus saat ini. Yang pertama menghadapi demonstrasi yang meluas ke seluruh negeri. Yang kedua, ancaman aksi militer Amerika Serikat (AS).
Aksi demonstrasi yang bermula pada 28 Desember lalu akibat anjloknya nilai mata uang Iran telah menyebabkan banyak korban meninggal.
Protes berkembang menjadi seruan yang secara langsung menantang sistem teokrasi di negeri yang beribu kota di Teheran tersebut.
Belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Iran, tapi menurut Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS, jumlah korban tewas dalam aksi protes telah meningkat menjadi sedikitnya 116 orang sampai dengan Minggu (11/1). Sementara, lebih dari 2.600 orang lainnya ditahan.
Akses internet Iran juga telah diputus dan jaringan telepon diblokir sejak Kamis (1/1). Kondisi ini membuat pemantauan demonstrasi dari luar negeri menjadi semakin sulit.
Dalam sebuah video daring, para demonstran terlihat berunjuk rasa pada Jumat di kawasan Saadat Abad, Teheran Utara, dengan jumlah massa yang tampak mencapai ribuan orang.
Mereka berteriak, “Matilah Khamenei!”, mengacu kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.
Televisi Pemerintah Iran yang dikutip AFP hanya melaporkan adanya korban dari pihak pasukan keamanan.
Namun, tidak membahas kematian para demonstran yang semakin sering mereka sebut sebagai teroris.
Televisi pemerintah juga berulang kali memutar aransemen orkestra bernuansa militer dari lagu “Epic of Khorramshahr” karya komposer Iran Majid Entezami, sembari menayangkan demonstrasi pro-pemerintah.
Lagu tersebut mengenang pembebasan Kota Khorramshahr oleh Iran pada 1982 dalam Perang Iran-Iraq.
Lagu itu juga pernah digunakan dalam video para perempuan demonstran yang memotong rambut mereka sebagai bentuk protes atas kematian Mahsa Amini pada 2022.
Meski demikian, televisi pemerintah juga mengakui bahwa protes masih berlanjut hingga Minggu pagi.
Adapun Khamenei telah memberi sinyal akan adanya tindakan penindakan keras pada perusuh meski sebelumnya telah ada peringatan dari AS.
Pada Sabtu (10/1), Jaksa Agung Iran Mohammad Movahedi Azad mengungkapkan bahwa siapa pun yang ikut serta dalam protes akan dianggap sebagai “musuh Tuhan,”.
Di Iran, itu bisa diklasifikasikan sebagai kejahatan serius yang dapat dijatuhi hukuman mati. Ancaman ini bukan hanya untuk mereka yang ikut demo, tapi juga yang membantu.
“Para jaksa harus dengan cermat dan tanpa penundaan, melalui penerbitan surat dakwaan, mempersiapkan dasar hukum untuk persidangan dan konfrontasi tegas terhadap mereka yang mengkhianati bangsa dan menciptakan ketidakamanan serta berupaya menempatkan negara di bawah dominasi asing,” demikian bunyi pernyataan Jaksa Agung Iran, seperti dikutip dari AFP.
Pemutusan Arus Informasi
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengungkapkan bahwa militer AS dan Israel akan menjadi target yang sah jika AS menyerang Iran sebagaimana diancamkan Presiden AS Donald Trump. Trump sebelumnya mengancam Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika ada demonstran meninggal.
“Iran sedang melihat kebebasan yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya. Dan, Amerika Serikat siap membantu,” tulis Trump di akun Truth Social-nya.
Dalam laporannya, The New York Times dan The Wall Street Journal, yang mengutip seorang pejabat AS, menyebutkan, bahwa Trump telah menerima opsi militer untuk menyerang Iran. “Namun, presiden belum mengambil keputusan akhir,” kata pejabat yang tak disebutkan namanya itu.
Sementara itu, masyarakat global menyampaikan kekhawatiran atas pemutusan arus informasi yang terjadi.
Dikhawatirkan, kondisi ini akan mendorong kelompok garis keras di dalam aparat keamanan Iran untuk melancarkan penindakan berdarah.
Putra Mahkota Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, merupakan salah satu pihak yang menyerukan aksi protes pada Kamis (1/1) dan Jumat (2/1) pekan lalu.
Bahkan, mendorong para demonstran turun ke jalan kembali pada Sabtu (3/1) dan Minggu (4/1).
Ia juga mengimbau para pengunjuk rasa membawa bendera lama Iran bergambar singa dan matahari, serta simbol-simbol nasional lain yang digunakan pada masa kekuasaan sang ayahanda untuk mengklaim ruang publik sebagai milik sendiri.
Sementara itu, sejumlah maskapai membatalkan penerbangan ke Iran buntut situasi yang tak kondusif.
Austrian Airlines, misalnya, menyatakan bahwa pihaknya memutuskan menangguhkan penerbangan ke negeri tetangga Irak itu sebagai “langkah pencegahan”.
Aksi itu akan dilakukan hingga hari ini. Sedangkan Turkish Airlines sebelumnya mengumumkan pembatalan 17 penerbangan ke tiga kota di Iran. (mia/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida