Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pasukan NATO Tiba di Greenland, Trump Dikritik Warga dan Tegang dengan Denmark!

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 16 Januari 2026 | 06:11 WIB

 

Pasukan NATO tiba di Greenland.
Pasukan NATO tiba di Greenland.

LombokPost
 — Pasukan dari sejumlah negara anggota NATO mulai berdatangan ke Greenland. Dalam beberapa hari ke depan, aliansi militer Atlantik Utara itu juga diperkirakan akan mengirimkan tambahan pesawat dan kapal perang ke kawasan Arktik tersebut.

Pengerahan ini menyusul keputusan Denmark yang menyatakan bahwa personel militer dari berbagai negara NATO akan bergantian menjaga kehadiran militer di Greenland.

Langkah itu diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah pembicaraan tingkat tinggi di Gedung Putih gagal mencapai kesepakatan mengenai masa depan pulau Arktik tersebut.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menegaskan bahwa Greenland dibutuhkan Washington demi kepentingan keamanan nasional. Menurut Trump, penguasaan Greenland penting tidak hanya bagi Amerika Serikat, tetapi juga bagi keamanan Eropa.

“Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Kita akan lihat apa yang terjadi,” ujar Trump, menegaskan kembali pernyataannya yang pertama kali muncul pada masa jabatan pertamanya.

Penolakan dari Warga Greenland

Di Nuuk, ibu kota Greenland, warga mengikuti perkembangan tersebut dengan penuh perhatian. Ketika ditanya, banyak warga menyampaikan pesan tegas kepada Trump: mereka tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat.

Sikap serupa juga ditunjukkan para demonstran di depan Kedutaan Besar AS di Kopenhagen yang menyuarakan penolakan terhadap rencana pencaplokan itu.

Sementara itu, sekitar 3.200 kilometer dari Nuuk, Menteri Luar Negeri Greenland dan Menteri Luar Negeri Denmark menggelar pertemuan tertutup dengan Wakil Presiden AS dan Menteri Luar Negeri AS di Gedung Putih.

Pertemuan tersebut menjadi pembicaraan substansial pertama antara ketiga pihak sejak Trump kembali mengangkat isu pengambilalihan Greenland.

Hasilnya, tidak ada kesepakatan final. Namun, skenario terburuk berhasil dihindari. Pemerintah AS tidak mengeluarkan ultimatum keras, melainkan sepakat membentuk kelompok kerja bersama—sebuah langkah yang menunda konfrontasi terbuka.

“Ide apa pun yang tidak menghormati integritas teritorial Kerajaan Denmark dan hak penentuan nasib sendiri rakyat Greenland sepenuhnya tidak dapat diterima,” tegas Lars Loke Rasmussen, Menteri Luar Negeri Denmark, seraya mengakui masih adanya perbedaan mendasar dengan Washington.

Pesan NATO ke Washington

Di tengah kebuntuan diplomatik tersebut, sekitar 10 negara Eropa anggota NATO—termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman—bersiap mengirimkan pasukan dan kemampuan pertahanan ke Greenland. Jumlah personel yang dikerahkan diperkirakan tidak besar, namun pesan politiknya jelas.

NATO ingin menunjukkan bahwa aliansi hadir untuk membantu menjaga stabilitas kawasan, sekaligus mengingatkan Amerika Serikat agar tidak mengambil langkah sepihak yang berisiko memperburuk hubungan transatlantik.

Trump sendiri berulang kali menyatakan bahwa tanpa kendali AS, Greenland berpotensi jatuh ke tangan Rusia atau China. Klaim inilah yang menjadi salah satu pemicu meningkatnya perhatian NATO dan eskalasi ketegangan di kawasan Arktik.

Dengan kehadiran pasukan NATO yang mulai terlihat di lapangan, Greenland kini menjadi titik temu kepentingan strategis global—antara keamanan, kedaulatan, dan rivalitas kekuatan besar dunia.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Arktik #Amerika Serikat #Greenland #nato #Donald Trump