LombokPost - Upaya Eropa membangun akal imitasi (AI) mandiri kini bergerak dari wacana menjadi strategi geopolitik.
Hal itu tak lepas dari aliansi dengan Amerika Serikat (AS) yang merenggang. Dorongan menguat seiring keberhasilan DeepSeek dari Tiongkok.
Selama lebih dari satu dekade, perusahaan-perusahaan AS mendominasi hampir seluruh rantai nilai AI. Mulai dari desain dan manufaktur prosesor, kapasitas pusat data, hingga pengembangan model dan aplikasi.
Keunggulan ini diperkuat arus investasi besar ke sektor teknologi AS, menjadikan Eropa tertinggal dan bergantung pada infrastruktur digital di luar kawasan.
Awal Januari lalu, misalnya. Kepala badan keamanan siber nasional Belgia mengatakan kepada Financial Times bahwa Eropa telah ”kehilangan internet” dan perlu menerima kenyataan adanya tingkat ketergantungan tertentu terhadap infrastruktur digital AS.
”Kita terlalu mudah percaya pada narasi bahwa inovasi hanya terjadi di Amerika Serikat bahwa Eropa telah tertinggal dalam perlombaan kecerdasan buatan dan bahkan tidak perlu lagi berupaya mengejarnya,” ujar Rosaria Taddeo, profesor etika digital dan teknologi pertahanan di University of Oxford seperti dilansir dari Wired.
”Itu adalah narasi yang berbahaya,” sambungnya seraya menegaskan bahwa AI kini harus diperlakukan sebagai infrastruktur strategis, bukan sekadar produk komersial.
Pendekatan Terbuka
Salah satu keunggulan potensial Eropa terletak pada pendekatan terbuka. Berbeda dengan perusahaan besar AS yang tertutup mengenai data pelatihan dan desain model, sejumlah laboratorium Eropa memilih mengembangkan AI secara terbuka agar dapat digunakan dan disempurnakan bersama.
”Anda mampu melipatgandakan kekuatan model-model ini,” kata Wolfgang Nejdl, profesor ilmu komputer di Leibniz Universitat Hannover dan direktur L3S Research Center, yang terlibat dalam konsorsium pengembangan model bahasa besar Eropa.
Proyek sumber terbuka SOOFI yang melibatkan Nejdl juga menargetkan pengembangan model bahasa besar serbaguna (LLM) kompetitif dengan sekitar 100 miliar parameter dalam satu tahun ke depan. ”Kami akan menjadi DeepSeek-nya Eropa,” tegas Nejdl.
Lanskap Geopolitik
Urgensi kemandirian AI di Eropa juga dipercepat oleh perubahan lanskap geopolitik. Hal itu tercermin setelah Komisi Eropa menjatuhkan denda sebesar USD 140 juta (Rp 2,37 triliun) kepada platform X milik Elon Musk. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengecam langkah tersebut sebagai “serangan terhadap platform teknologi Amerika oleh pemerintah asing”. (din/dns/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida