Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas, ratusan ribu rumah kehilangan listrik, dan ribuan penerbangan terpaksa dibatalkan akibat cuaca yang mengancam nyawa.
Badai salju disertai hujan es dan hujan beku ini membentang luas dari Texas hingga New England.
Badan Cuaca Nasional AS (NWS) memperingatkan kondisi berbahaya tersebut berpotensi berlangsung selama beberapa hari ke depan dan dapat berdampak pada sekitar 180 juta penduduk Amerika Serikat.
Mengutip laporan bbc.com, dua korban meninggal dunia di Louisiana akibat hipotermia. Kematian lain juga dilaporkan terjadi di Texas, Tennessee, dan Kansas.
Di New York City, sedikitnya lima orang dilaporkan meninggal dunia, meski penyebab pastinya masih diselidiki.
Hingga Minggu sore waktu setempat, lebih dari 800 ribu rumah tangga mengalami pemadaman listrik.
Sementara itu, lebih dari 11 ribu penerbangan dibatalkan akibat bandara lumpuh dan kondisi landasan yang tidak aman.
Ahli meteorologi NWS, Allison Santorelli, menyebut salju dan lapisan es akan mencair sangat lambat.
“Ini akan menghambat proses pemulihan dan membuat kondisi berbahaya bertahan lebih lama,” ujarnya kepada BBC.
Hampir separuh negara bagian AS telah menetapkan status darurat. Sekolah ditutup, jalan raya dipenuhi kecelakaan akibat lapisan es, dan Senat AS bahkan membatalkan agenda pemungutan suara.
Fenomena pusaran kutub (polar vortex) disebut sebagai pemicu utama badai ini. Udara Arktik yang bergerak ke selatan bertemu dengan udara hangat, menciptakan badai besar yang jarang terjadi di wilayah selatan AS seperti Texas dan Louisiana.
Para ahli juga menilai perubahan iklim berpotensi memengaruhi pola pusaran kutub, membuat cuaca ekstrem seperti ini semakin sering dan sulit diprediksi.
Editor : Marthadi