Mengutip laporan abc.net.au, nama Trump tercantum dalam berbagai dokumen, termasuk daftar FBI yang memuat pria-pria yang disebut sebagai subjek “informasi cabul”. Meski demikian, penyebutan nama dalam berkas Epstein tidak otomatis berarti adanya pelanggaran hukum.
Dari sekitar 3,5 juta dokumen baru yang dirilis, sebagian besar penyebutan Trump hanya muncul dalam artikel berita, dokumen publik, atau korespondensi pribadi yang bersifat umum.
Trump sendiri mengaku belum membaca berkas tersebut. Namun ia mengatakan telah diberi tahu bahwa isi dokumen justru membersihkan namanya, bukan sebaliknya.
Tuduhan Lama, Klaim Tak Terverifikasi
Dokumen itu memuat surel internal FBI yang merangkum laporan masyarakat berisi tuduhan terhadap Trump dan tokoh terkenal lainnya. Laporan-laporan tersebut bersifat belum diverifikasi, sebagian berasal dari informasi tangan kedua, dan dinilai tidak cukup kredibel untuk diselidiki lebih lanjut.
Beberapa klaim menyebut dugaan pelanggaran seksual, termasuk terhadap anak di bawah umur. Namun Departemen Kehakiman AS menegaskan bahwa dokumen publik tersebut juga mencakup klaim palsu atau sensasional yang dikirim ke FBI, terutama menjelang pemilu 2020.
Wakil Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menyebut banyak laporan berasal dari penelepon anonim tanpa bukti kuat sehingga tidak bisa ditindaklanjuti.
Disebut “Diperkenalkan” di Sebuah Pesta
Salah satu dokumen FBI yang banyak disunting mengungkap kesaksian seorang perempuan yang mengaku pernah menjadi korban Epstein dan Ghislaine Maxwell. Ia menyebut Maxwell pernah “memperkenalkannya” kepada Trump di sebuah pesta di New York.
Dalam kesaksian tersebut, perempuan itu menegaskan tidak terjadi apa pun antara dirinya dan Trump. Namun ia menggambarkan Maxwell sebagai sosok yang sangat berbahaya.
Epstein Pernah Ingin Hubungi Trump
Dokumen lain menunjukkan bahwa pada 2011, Epstein sempat mempertimbangkan untuk menghubungi Trump terkait kasus Virginia Giuffre, perempuan yang menuduh Epstein memperdagangkannya secara seksual saat remaja.
Tidak jelas apakah Epstein benar-benar menghubungi Trump atau apa tujuan percakapan tersebut.
Kontroversi Tak Berhenti
Kontroversi terbesar dari rilis dokumen ini justru datang dari bagian yang disunting dan tidak dipublikasikan. Sejumlah politisi dan kelompok penyintas menilai pemerintah AS masih menahan jutaan dokumen yang dinilai relevan.
Meski demikian, otoritas hukum AS menegaskan tidak ada dokumen yang sengaja disembunyikan dan menyatakan siap membuka akses bagi anggota parlemen.
Rilis terbaru berkas Epstein kembali memicu perdebatan besar di Amerika Serikat. Namun untuk saat ini, nama besar Donald Trump masih belum terseret ke dalam temuan yang berdampak langsung secara hukum maupun politik.
Editor : Marthadi