LombokPost - Ekspansi pusat data untuk menopang ledakan kecerdasan buatan (AI) global mulai tersendat di jantung kawasan agraria Amerika Serikat.
Di tengah perlombaan investasi infrastruktur digital bernilai miliaran dolar, sebagian petani justru menolak tawaran fantastis demi mempertahankan tanah warisan dan identitas hidup mereka.
Kasus paling mencolok terjadi di Mason County, Kentucky. Ida Huddleston, 82, tahun lalu didatangi dua perwakilan perusahaan (disebut sebagai bagian dari “Fortune 100”).
Dia ditawari lebih dari USD 33 juta (Rp 556,7 miliar) untuk 264 hektare lahan pertaniannya.
Lebih dari selusin tetangga Huddleston mendapat pendekatan serupa. Dokumen publik menunjukkan pengajuan proyek listrik 2,2 gigawatt –nyaris dua kali kapasitas produksi tahunan pembangkit setempat– yang mengarah pada pembangunan pusat data raksasa.
Namun, Huddleston bergeming. ’’Anda tidak akan punya cukup uang untuk membeli tanah saya. Tanah ini tidak untuk dijual. Tinggalkan saya sendiri, saya sudah puas,’’ tegas Huddleston sebagaimana dikutip The Guardian Senin (23/2).
Bagi dia, tanah bukan sekadar aset. Empat generasi keluarganya menggantungkan hidup di sana.
’’Seluruh hidup saya tidak pernah lepas dari tanah ini. Tanah ini memberi saya segala yang saya butuhkan selama 82 tahun,’’ ungkapnya.
Di Pennsylvania, seorang petani menampik tawaran USD 15 juta. Di Wisconsin, uang USD 80 juta juga tak mampu melunakkan sikap pemilik lahan.
Timothy Grosser, 75, juga menolak tawaran USD 8 juta dolar AS untuk 101 hektare lahannya. Padahal, nilai itu sudah 3.500 persen di atas harga beli hampir empat dekade lalu.
’’Bagi para petani, uang tak sebanding dengan gaya hidup yang diwariskan turun-temurun,’’ tegasnya.
Peluang Ekonomi
Di sisi lain, pejabat daerah melihat adanya peluang ekonomi. Tyler McHugh, direktur pengembangan industri Mason County, menyatakan, daerahnya dihadapkan pada dua pilihan. Yakni, terus menyusut dengan kehilangan penduduk dan pekerjaan atau membuka arah baru.
Proyek pusat data itu diklaim berpotensi menciptakan sekitar seribu lapangan kerja konstruksi.
Namun, sejumlah akademisi mengingatkan konsekuensi jangka panjang. Sosiolog pedesaan dari University of Missouri, Mary Hendrickson, menilai, alih fungsi lahan pertanian untuk pusat data nyaris tak dapat dipulihkan. ’’Fungsi pertaniannya pada dasarnya akan musnah,’’ ujarnya. (din/dri/JPG/r3)
Dampak Alih Fugsi Lahan
untuk Pusat Data AI
Ekonomi
-Hilangnya produksi pangan
-Meningkatkan ketergantungan impor
-Mendorong kenaikan harga pangan lokal
Sosial
-Erosi identitas agraria
-Memutus tradisi keluarga lintas generasi
-Mengubah pola hidup komunitas desa
-Urbanisasi mikro (pekerja konstruksi, teknisi)
-Lonjakan harga tanah
Lingkungan
-Konsumsi listrik skala besar
-Peningkatan emisi karbon
-Menguras sumber air tanah atau sungai
-Hilangnya Keanekaragaman Hayati
Ketahanan Nasional
-Ketahanan pangan melemah dalam krisis global
-Kebutuhan energi melonjak drastis
Sumber: Disarikan dari berita
Editor : Kimda Farida