LombokPost - KALAU Iran benar akan menutup Selat Hormuz, kata Ayub Mirdad dosen hubungan internasional Universitas Airlangga, konflik yang semula regional bisa menjadi krisis internasional.
Seberapa luas konflik akan menyebar? Apakah kekhawatiran Perang Dunia III berdasar?
Saya tidak melihat ini langsung menuju Perang Dunia III. Yang lebih realistis adalah perang regional yang melebar (regional spillover), bukan perang global.
Kenapa? Karena bahkan pihak-pihak yang terlibat pun sebenarnya masih ingin menghindari perang total. AS, Israel, Iran, bahkan negara-negara Teluk, semuanya tahu perang langsung antarnegara besar akan sangat mahal dan tidak terkendali.
Yang kemungkinan terjadi justru konflik tidak langsung: serangan melalui kelompok sekutu, gangguan jalur pelayaran, serangan terbatas ke pangkalan militer, atau operasi siber.
Jadi, eskalasinya naik, tapi tetap di bawah ambang perang dunia. Kekhawatiran publik wajar, tapi secara struktur, sistem internasional sekarang tidak seperti 1914 atau 1939. Tidak ada blok militer global yang siap berperang total satu sama lain.
Apakah ada kemungkinan Rusia yang dekat dengan Iran turun tangan?
Rusia hampir pasti tidak akan membantu Iran secara militer langsung. Ini penting dipahami.
Kedekatan Rusia–Iran itu lebih bersifat strategis dan situasional, bukan aliansi pertahanan seperti NATO.
Rusia sedang terikat di Ukraina, ekonominya juga dalam tekanan. Masuk perang langsung membela Iran justru akan membuka front baru yang tidak mereka inginkan.
Yang mungkin terjadi adalah dukungan tidak langsung: dukungan diplomatik di Dewan Keamanan PBB, koordinasi intelijen, dan mungkin bantuan teknologi atau logistik terbatas.
Pernyataan resmi Indonesia lewat Kemenlu banyak dikritik karena tidak mengecam, bahkan tidak menyebut AS dan Israel sebagai agresor. Apa pemicunya menurut Anda?
Saya kira ini bukan semata soal keberanian atau tidak berani, tapi soal perhitungan diplomatik. Indonesia berada pada posisi yang berbeda dengan masyarakat domestik.
Di dalam negeri, opini publik cenderung moral, orang ingin pemerintah menyebut siapa yang salah secara jelas.
Namun, dalam praktik diplomasi, bahasa sangat menentukan akses komunikasi.
Kalau Indonesia secara resmi langsung menyebut satu pihak sebagai agresor, otomatis kanal komunikasi dengan pihak itu tertutup.
Padahal dalam krisis seperti ini, negara yang masih bisa berbicara dengan semua pihak justru lebih berguna daripada negara yang paling keras pernyataannya.
Menurut saya, itu bukan berarti Indonesia tidak punya sikap, melainkan Indonesia berusaha mempertahankan posisi sebagai aktor yang masih bisa diterima semua pihak.
Ada juga faktor lain: Indonesia bukan kekuatan militer di Timur Tengah.
Satu-satunya pengaruh yang kita miliki adalah diplomasi dan legitimasi moral.
Kalau Selat Hormuz ditutup Iran, seberapa besar itu bakal berdampak terhadap geopolitik dan ekonomi global?
Dampaknya akan sangat besar, bahkan mungkin itu skenario paling serius dari seluruh konflik ini.
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia lewat di sana.
Artinya, kalau jalur itu terganggu saja, tidak harus ditutup total, harga energi global langsung melonjak. Yang pertama terasa adalah harga minyak.
Efek berikutnya inflasi global. Negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, akan langsung terdampak melalui harga BBM, transportasi, dan pangan.
Jadi, masyarakat mungkin tidak melihat perang secara langsung, tapi merasakannya lewat harga kebutuhan sehari-hari.
Secara geopolitik juga berbahaya. Penutupan Hormuz hampir pasti akan memicu keterlibatan militer internasional karena bagi banyak negara itu dianggap menyangkut keamanan energi dunia.
Jadi, konflik yang tadinya regional bisa berubah menjadi krisis internasional.
Namun, justru karena dampaknya sangat besar, Iran biasanya menggunakan isu Hormuz sebagai alat tekanan strategis, bukan langkah pertama.
Jadi, kalau itu sampai terjadi, artinya konflik sudah masuk fase yang jauh lebih berbahaya daripada sekarang. (ida/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida