Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Satriadi, Warga Lombok Puasa di Dubai di Tengah Konflik Iran dan Amerika -Israel

Hamdani Wathoni • Rabu, 4 Maret 2026 | 06:18 WIB

ISTIQOMAH: Ilham Satriadi, pekerja migran asal Gerung, Lombok Barat yang bekeja di Dubai.
ISTIQOMAH: Ilham Satriadi, pekerja migran asal Gerung, Lombok Barat yang bekeja di Dubai.

LombokPost - Ilham Satriadi sudah memasuki tahun ketiga menjalankan ibadah puasa Ramadan di Dubai, Uni Emirat Arab. Di Negeri rantauan ini, Satria, sapaannya menjalankan ibadah puasa dengan berbagai dinamikan yang tentunya jauh berbeda dengan tanah kelahirannya di Gerung, Lombok Barat.

Di antara gemerlap gedung pencakar langit Dubai, Ilham Satriadi menatap jam dinding dapur restoran cepat saji tempatnya bekerja. Jarum hampir menunjuk pukul 18.21. Waktu berbuka tinggal hitungan menit. Di tangannya, spatula masih sigap membalik daging burger pesanan pelanggan yang tak pernah sepi.

Aroma daging panggang dan kentang goreng memenuhi dapur tempatnya kerja. Sementara itu, tenggorokannya kering setelah seharian berpuasa. Ia harus tetap tersenyum, tetap cekatan, meski tubuh menanti azan magrib. Pemuda asal Gerung, Lombok Barat, itu sudah memasuki tahun ketiga merantau. Ia tiba di Dubai pada November 2024, hanya beberapa bulan sebelum Ramadan pertamanya di negeri orang.

Sejak itu, bulan suci selalu menghadirkan dua rasa sekaligus yakni haru dan rindu. "Imsak di sini jam 05.21, berbuka pukul 18.21," tuturnya. Ramadan pertama tak sepenuhnya mulus. Adaptasi dengan ritme kerja dan lingkungan baru menjadi tantangan berat. "Puasa pertama sempat batal satu dua hari. Puasa kedua alhamdulillah lolos sebulan penuh. Puasa ketiga batal tiga hari karena sakit, telinga, gigi, demam," ucapnya.

Ilham bekerja di McDonald's Dubai. Setiap hari ia membuat burger dan paket makanan untuk pelanggan yang sebagian besar tidak berpuasa. Meksi sebagian besar penduduknya muslim, kota ini memang kosmopolitan. Penduduknya datang dari berbagai negara dan latar belakang agama. Wisatawan mancanegara pun memadati pusat-pusat perbelanjaan dan restoran, bahkan di siang hari Ramadan.

"Penghuni kota sebagian besar wisatawan, banyak yang tidak puasa. Apalagi wisatawan non-Muslim. Tapi ya itu tantangannya," katanya. Menahan diri di tengah orang makan dan minum bukan perkara mudah. Namun Ilham memilih menjadikannya latihan mental. Agar bisa berbuka tepat waktu, ia sengaja mengambil shift sore. Saat azan magrib berkumandang, ia biasanya menyempatkan diri berbuka di sela pekerjaan. Menu berbukanya sederhana.

"Buka pakai sayap ayam, nasi, dan sambal dari dapur tempat bekerja," akunya. Tak ada kolak atau jajanan khas kampung halaman. Jika sedang libur, ia memasak sendiri di apartemennya. Sayur sop, sambal ayam, telur, atau menu rumahan lain menjadi pengobat rindu. Meski begitu, rasa kangen kampung halaman tak pernah benar-benar hilang. Terlebih saat Lebaran mendekat. Ia membayangkan suasana takbiran, serta kumpul bersama keluarga yang hangat.

"Tetap rindu masakan rumah. Rindu pulang saat Lebaran. Kadang tidak tidur menunggu bisa Lebaran," ungkapnya lirih. Ada satu momen yang paling membekas selama Ramadan di Dubai. Apalagi kalau bukan suasana salat tarawih dan subuh. Di tengah udara gurun yang berbeda dengan Lombok, ia kerap terharu. Langit malam terasa begitu luas. Lampu-lampu kota berkilauan, namun hatinya melayang jauh ke kampung.

"Cuacanya, suasananya, bikin rindu rumah," katanya. Di balik perjuangannya, ada keluarga kecil yang menjadi sumber kekuatan. Ilham adalah bapak dari M Zidan Eliam dan suami dari Liya. Status sebagai kepala keluarga membuatnya bertahan di negeri orang. Gajinya berkisar Rp 7 juta hingga Rp 7,7 juta per bulan.

Dari penghasilan itu, ia masih bisa menyisihkan sekitar 1.000 dirham atau setara Rp 4–4,5 juta untuk ditabung. Tabungan itulah yang menjadi fondasi mimpinya. Ia menargetkan bertahan hingga 2028. Ia ingin pulang dengan sesuatu yang nyata untuk keluarga. "Pengen bangun rumah sendiri dan punya modal usaha. Bantu orang tua di rumah," harap alumni SMAN 1 Gerung itu.

Namun, kehidupan di Timur Tengah tak selalu tenang. Belakangan, situasi geopolitik kawasan memanas akibat konflik yang melibatkan Iran, Israel, Amerika Serikat dan sekutunya. Kabar tentang ketegangan regional sampai juga ke telinga para pekerja migran. Ilham mendengar informasi adanya pangkalan militer Amerika di Dubai, yang membuat sebagian orang khawatir.

"Hari Sabtu seluruh mal bahkan sempat ditutup. Tapi restoran tempat saya bekerja tidak ditutup," tuturnya. Kondisi itu sempat membuatnya ingin pulang. Rasa cemas bercampur rindu yang sudah lama dipendam. Namun, kontraknya telah diperpanjang dua tahun dan jadwal cuti belum tiba.

Ia tak punya banyak pilihan selain bertahan. Di dapur restoran cepat saji itu, Ilham belajar tentang sabar dan konsistensi. Ia membuat burger sambil menahan lapar, menyajikan makanan bagi orang lain saat dirinya menunggu waktu berbuka. Ia menyadari, merantau bukan sekadar soal mencari uang, tetapi juga soal menempuh jarak dan menguatkan hati.

Ramadan baginya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah latihan keteguhan. Tentang bertahan di negeri orang, menahan rindu yang tak selalu bisa ditebus tiket pulang, dan menjaga harapan tetap menyala di tengah ketidakpastian. Di bawah langit Dubai yang gemerlap, Ilham menggenggam mimpi membangun sebuah rumah di kampung halaman, usaha kecil untuk masa depan. 

Editor : Akbar Sirinawa
#ramadan #PMI #UEA #Rantau #Puasa #Lombok #Dubai