LombokPost--Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin, menawarkan diri sebagai mediator guna meredakan situasi pasca-serangan udara gabungan yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Langkah diplomasi ini diambil menyusul kekhawatiran global akan terjadinya perang terbuka yang lebih luas di kawasan tersebut.
Kremlin menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas dengan merangkul kekuatan-kekuatan besar di wilayah Teluk.
Sebagai bagian dari upaya deeskalasi, Presiden Putin dilaporkan telah melakukan pembicaraan telepon intensif dengan sejumlah pemimpin negara-negara Teluk.
Fokus pembicaraan ini melibatkan negara-negara kunci seperti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar.
Baca Juga: Trump Putus Hubungan Dagang dengan Spanyol: Ketegangan Diplomatik dan Dampak Ekonomi Global
Dalam dialog tersebut, Rusia berupaya memetakan kekhawatiran kolektif dan mencari solusi damai guna menghentikan siklus kekerasan yang terus berlanjut di Timur Tengah.
Pihak Kremlin tidak ragu untuk menyatakan posisi tegas mereka terhadap aksi militer yang dilakukan oleh Washington dan Tel Aviv.
Rusia secara resmi mengutuk serangan udara gabungan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Kremlin menyebut aksi militer terhadap Iran sebagai sebuah "agresi tanpa provokasi".
Pernyataan ini menegaskan posisi Rusia yang melihat serangan tersebut sebagai ancaman serius bagi kedaulatan negara dan stabilitas internasional.
Keunggulan Rusia dalam krisis ini terletak pada hubungan diplomatik dan strategisnya yang kuat dengan Iran.
Moskow menawarkan diri untuk memanfaatkan akses langsung tersebut guna membantu proses stabilisasi kawasan.
Rusia berkomitmen untuk menjadi jembatan komunikasi, termasuk menyampaikan keluhan dan aspirasi negara-negara Teluk langsung ke Teheran.
Dengan peran ini, Rusia berharap dapat menekan potensi konflik lebih lanjut dan membawa semua pihak kembali ke meja perundingan
Editor : Kimda Farida