Bursa Saham Korea Selatan Anjlok 8 Persen: Konflik Timur Tengah Picu 'Circuit Breaker' dan Kerugian Rp4.200 Triliun
Kimda Farida• Rabu, 4 Maret 2026 | 12:52 WIB
Layar bursa efek di Seoul menunjukkan grafik penurunan tajam indeks KOSPI yang sempat menyentuh ambang batas 8%, memicu penghentian sementara perdagangan setelah eskalasi konflik di Timur Tengah.
LombokPost--Pasar saham Korea Selatan mengalami guncangan hebat pada perdagangan 3 Maret, dengan indeks KOSPI ditutup merosot 7,24 persen (452 poin) ke level 5.791,91.
Penurunan tajam ini sempat memicu aktivasi circuit breaker setelah indeks menghantam ambang batas 8 persen, menghentikan perdagangan sementara untuk pertama kalinya sejak krisis yen carry-trade tahun 2024.
Kejatuhan ini menghapus nilai pasar sebesar ₩390 triliun (sekitar $270 miliar atau Rp4.200 triliun) dalam satu sesi perdagangan saja.
Sentimen negatif dipicu oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang langsung direspons dengan ancaman Teheran untuk memblokir Selat Hormuz.
Mengingat jalur tersebut merupakan titik nadi bagi 20 persen aliran minyak dunia, harga minyak mentah melonjak melewati $79 per barel, naik antara 10 persen hingga 13 persen.
Korea Selatan sangat rentan terhadap gejolak ini karena negara tersebut mengimpor sekitar 70% kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah.
Kekhawatiran akan lonjakan biaya energi memicu kepanikan investor dan aksi jual aset berisiko (risk-off panic).
Sektor teknologi, yang menjadi tulang punggung ekonomi Korea Selatan, memimpin penurunan pasar.
Saham Samsung Electronics anjlok 9,88%, sementara produsen cip lainnya, SK Hynix, merosot hingga 11,5 persen.
Investor asing mencatatkan rekor aksi jual bersih mencapai 5,17 triliun won, memperparah tekanan pada indeks saat pasar menyerap akumulasi guncangan geopolitik selama libur nasional 1 Maret.
Meskipun angka penurunan ini terlihat sangat mengkhawatirkan, beberapa analis mencatat bahwa sebelum kejadian ini, pasar Korea Selatan sempat menyentuh rekor tertinggi dalam 30 hari terakhir.
Kondisi pasar yang sempat memanas (overheated) dinilai berkontribusi pada skala aksi ambil untung (profit-taking) yang masif saat berita konflik pecah.
Hingga saat ini, perdagangan telah dilanjutkan kembali setelah penghentian sementara, namun pasar tetap dalam posisi waspada memantau perkembangan di Timur Tengah dan dampaknya terhadap rantai pasok energi global.