LombokPost - PERANG 12 Hari tahun lalu yang juga melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel benar-benar menjadi pelajaran penting bagi Iran. Terutama terkait amunisi, baik mengenai ketersediaan maupun efektivitas pemakaian.
Karena itu, dalam lima hari pertama perang yang dipicu serangan AS-Israel ke wilayah mereka pada Sabtu (28/2) pekan lalu, Iran lebih banyak menggunakan drone Shahed yang murah untuk menyerang berbagai fasilitas AS di kawasan Teluk Persia.
Sedangkan misil balistik yang canggih dan mahal biaya produksinya hanya dipakai untuk menyerang wilayah Israel atau target tertentu lainnya.
Hasilnya efektif sejauh ini. Serangan ribuan drone Shahed benar-benar memicu kepanikan para sekutu AS di Teluk.
Adapun serangan misil balistik juga membuat raungan sirine tanda bahaya berkali-kali berbunyi di Israel meskipun wilayah udara Negeri Yahudi tersebut dilindungi sistem Iron Dome yang terkenal itu.
Bahnem Ben Taleblu dari Yayasan Pertahanan Demokrasi menyebut, Iran punya stok sekitar 2.000 misil sebelum perang dan drone dalam jumlah yang lebih besar lagi.
“Kelihatan sekali mereka belajar dari perang 12 hari. Mereka menggunakan drone untuk menyerang dan merusak sistem pertahanan udara para sekutu AS, dan memakai misil untuk memaksa Israel menghabiskan stok penangkal rudal mereka,” kata Taleblu.
Mengutip Middle East Eye, kepanikan para sekutu pada akhirnya memicu persoalan baru bagi AS.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Bahrain, Iran, Kuwait, dan Uni Emirat Arab sama-sama membutuhkan penangkal pertahanan udara untuk mengintersep serangan Iran.
Masalahnya, stok AS yang memproduksi sistem pertahanan udara untuk negara-negara tersebut, juga menipis.
Bahkan AS sendiri, mengutip laporan Washington Post, juga kekurangan stok persenjataan canggih.
Negeri Paman Sam itu mulai memakai persenjataan yang grade-nya di bawah yang mereka pakai selama ini.
Dalih Menteri Perang AS Pete Hegseth, karena sistem pertahanan udara Iran sudah menurun kualitasnya setelah mereka bombardir bersama Israel.
“Dengan sepenuhnya mengontrol wilayah udara, kami akan menggunakan bom 500 pound, 1.000 pound, dan 2.000 pound dilengkapi GPS, serta bom yang dilengkapi laser,” kata Hegseth.
Sebelumnya AS lebih banyak menggunakan misil yang ditembakkan dari kapal atau tanah. Jenis senjata ini tidak berisiko karena tak perlu melibatkan pilot. Tapi, biaya pembuatannya mahal dan butuh waktu tidak sebentar.
Boros Penggunaan
Menipisnya persenjataan canggih AS itu tak lepas dari kebijakan Presiden Donald Trump yang sejak berkuasa di periode kedua telah melancarkan tujuh operasi militer di tujuh negara berbeda. Masing-masing ke Iraq, Iran, Nigeria, Somalia, Syria, Venezuela, dan Yaman.
Belum lagi sebagian juga dikirim ke Ukraina yang tengah berperang dengan Rusia, dan sebagian lainnya dipakai memerangi bandar narkoba di Amerika Latin.
Itu yang membuat Jenderal Dan Caine, komandan kepala staf gabungan AS, pernah disebut menolak penyerangan ke Iran karena khawatir dengan minimnya stok amunisi serta dukungan sekutu.
Meskipun kabar tersebut kemudian dibantah Trump, tiga sumber yang diwawancarai Washington Post menyebut kalau stok persenjataan canggih AS, seperti rudal Patriot dan penangkal rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), hanya tersisa untuk “hitungan hari.”
“Yang paling mengejutkan Presiden Donald Trump itu serangan Iran ke negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS. Sulit dipercaya, katanya,” tutur seorang mantan staf intel AS kepada Middle East Eye. (ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida