LombokPost - HANYA menggempur lewat udara dan laut tak akan bisa melumpuhkan Iran.
Karena itu, Amerika Serikat (AS) dan Israel dikabarkan tengah mematangkan rencana penyerangan darat untuk mengganggu stabilitas lawan.
Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mendekati kelompok pemberontak Kurdi. Tapi, cara ini rupanya juga sudah terbaca oleh Teheran.
Media Iran, Press TV, seperti dikutip dari Al Jazeera Kamis (5/3), melaporkan bahwa pihak militer telah menyerang “pasukan separatis anti-Iran” tersebut tanpa menyebutkan lokasi pasti serangan itu.
Video yang diunggah Press TV di platform X menunjukkan ledakan yang menerangi langit malam selama operasi tersebut.
Sebelumnya, beberapa ledakan juga dilaporkan di Provinsi Sulaimaniyah di timur laut Iraq yang berbatasan dengan sisi barat Iran.
Menurut media lokal, setidaknya empat ledakan terdengar di provinsi tersebut.
Sumber lokal juga mengatakan, ledakan itu bagian dari serangan yang menargetkan markas Komala, kelompok bersenjata Kurdi Iran yang berbasis di Iraq.
Kurdi merupakan etnis yang mayoritas tersebar di tiga negara bertetangga: Iran, Iraq, dan Turki.
Di ketiga negara tersebut, Kurdi selalu menjadi kelompok marjinal dan sebagian memilih angkat senjata.
Kementerian Intelijen Iran menginformasikan, bahwa serangan tersebut menargetkan pos-pos “kelompok separatis” yang berniat masuk melalui perbatasan barat.
Kementerian memastikan, bahwa serangan itu telah menyebabkan kelompok tersebut mengalami kerugian besar.
Kontak dengan AS
Belum ada pernyataan resmi dari kelompok oposisi Kurdi Iran soal laporan tentang rencana serangan darat dari Iraq ke Iran tersebut.
Yang jelas, pada Selasa (3/3), media AS menyebut, bahwa Gedung Putih sedang mengeksplorasi opsi untuk mendukung faksi oposisi Kurdi, sebagai bagian dari upaya mendukung perubahan rezim di Teheran.
CNN melansir bahwa CIA (Badan Intelijen AS) sedang bekerja untuk mempersenjatai pasukan Kurdi guna memicu pemberontakan.
Seorang pejabat Kurdi Iran senior mengatakan, bahwa kelompok bersenjata diperkirakan akan ikut serta dalam operasi darat di Iran barat dalam beberapa hari mendatang.
CNN juga melaporkan bahwa pemerintahan Donald Trump telah berbicara dengan Mustafa Hijri, presiden Partai Demokrat Kurdistan Iran.
Beberapa sumber Kurdi mengonfirmasi adanya diskusi tersebut, sementara yang lain mengatakan, hanya terjadi pertemuan daring antara anggota Kongres AS dan para pemimpin Kurdi. (mia/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida