Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kuba di Ambang "Kiamat" Ekonomi: Bensin Rp 120 Ribu per Liter, Listrik Padam 16 Jam, Mahasiswa Diusir dari Asrama!

Marthadi • Sabtu, 7 Maret 2026 | 12:43 WIB

Krisis bahan bakar membuat aktivitas kehidupan di Kuba nyaris terhenti. (Dariel Pradas/Al Jazeera)
Krisis bahan bakar membuat aktivitas kehidupan di Kuba nyaris terhenti. (Dariel Pradas/Al Jazeera)
LombokPost – Negara cerutu ini benar-benar sedang dihantam badai yang tak berkesudahan.

Jalanan Havana yang biasanya ikonik dengan deretan mobil antik tahun 1950-an, kini berubah menjadi "kota hantu" yang sunyi akibat kelangkaan bahan bakar yang mencekik leher.

Tak hanya urusan perut, dunia pendidikan hingga pariwisata pun ikut tumbang dihajar krisis yang kian brutal.

Dikutip dari laporan Al Jazeera, krisis bahan bakar yang dipicu oleh blokade Amerika Serikat ini telah membuat denyut nadi kehidupan di Kuba seolah berhenti mendadak.

Bayangkan saja, pemerintah setempat terpaksa membatasi penjualan bensin hanya 20 liter per kendaraan, itu pun dengan antrean panjang yang dikelola lewat platform online.

Kondisi di lapangan jauh lebih mengerikan. Di pasar gelap, harga bensin meroket hingga 400 persen, menyentuh angka 8 USD atau sekitar Rp 125.000 per liter.

Padahal, sebelumnya pasokan minyak dari Venezuela yang menyokong 30 persen kebutuhan nasional masih terjamin sebelum terjadinya gejolak politik di negara tetangga tersebut.

Turis Kabur, Mahasiswa Dipulangkan

Dampak krisis ini menjalar ke segala sektor. Sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi pun rontok.

Sandra dan Sabrina Gonzalez, dua saudara kembar pemilik penginapan di Havana, harus menelan pil pahit setelah akun Airbnb mereka dinonaktifkan secara sepihak karena kebijakan regulasi AS.

Tak hanya itu, maskapai besar dari Kanada dan Rusia telah menghentikan penerbangan ke pulau tersebut, membuat hotel-hotel negara kini sepi bak tak berpenghuni.

Penderitaan rakyat Kuba kian lengkap dengan pemadaman listrik yang mencapai 16 jam sehari.

Bahkan, para mahasiswa di Universitas Havana diperintahkan untuk segera meninggalkan asrama dan pulang ke kampung halaman karena fasilitas kampus tidak lagi mampu beroperasi.

"Situasi ini terasa seperti saat pandemi COVID. Bedanya, dulu kami tidak bisa keluar rumah karena takut sakit. Sekarang, kami boleh keluar, tapi tidak bisa ke mana-mana karena ongkos perjalanan yang sangat mahal," keluh Rafael Mena, seorang mahasiswa jurnalistik, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Ekonomi Terburuk Sejak Revolusi Ekonom Daniel Torralbas menyebut tahun ini kemungkinan akan menjadi salah satu tahun tersulit bagi ekonomi Kuba sejak revolusi.

Dengan kontraksi PDB sebesar 15 persen selama lima tahun terakhir, indikator kesehatan, pendidikan, dan angka harapan hidup di negara tersebut terus merosot tajam.

Tanpa adanya perubahan struktural dan bantuan pasokan energi yang stabil, Kuba diprediksi akan terus berada dalam kondisi "mati suri" yang mengancam kelangsungan hidup jutaan rakyatnya.

Editor : Marthadi
#Blokade Amerika Serikat #Dampak Pariwisata Kuba #Ekonomi Kuba 2026 #Harga Bensin Kuba #Krisis Bahan Bakar Kuba