LombokPost - Kabar duka sekaligus kemarahan besar saat Dubes Iran untuk Indonesia memberikan informasi dan penjelasan tentang bagaimana, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei gugur menyelimuti kediaman Duta Besar Iran di Jakarta.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, secara detail mengonfirmasi bagaimana gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, akibat agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2) lalu.
Dalam acara penandatanganan petisi dan doa bersama di Jakarta, Boroujerdi menegaskan bahwa tuduhan pengembangan senjata nuklir yang dialamatkan kepada mendiang Khamenei adalah fitnah besar yang digunakan sebagai dalih untuk melakukan pembunuhan.
Fatwa Haram yang Diabaikan
Boroujerdi mengungkapkan bahwa Khamenei sebenarnya telah mengeluarkan fatwa yang sangat tegas: penggunaan, produksi, dan penyimpanan senjata nuklir hukumnya haram.
"Musuh membunuh pemimpin agung kami dengan tuduhan mencoba membangun senjata nuklir. Padahal, beliau telah memfatwakan bahwa senjata nuklir itu haram," ujar Boroujerdi dengan nada bicara yang bergetar namun tegas.
Baca Juga: Anak Khamenei dan Fatwa Antisenjata Nuklir, Mojtaba Lebih Banyak Berperan di Balik Layar
Ia menekankan bahwa seluruh aktivitas nuklir Iran sejatinya berada di bawah pengawasan ketat Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Namun, fakta tersebut seolah ditutup-tutupi oleh Washington dan Tel Aviv demi melancarkan serangan.
Sekolah Dasar Jadi Target Bom
Yang lebih memilukan, serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel tidak hanya menyasar pusat pemerintahan. Boroujerdi mengungkap kekejaman luar biasa dalam operasi militer tersebut.
Baca Juga: Detik-Detik Terakhir Ali Khamenei: Tolak Mengungsi Sebelum Gugur dalam Serangan Israel–AS
"Dua objek utama yang dijadikan sasaran pertama adalah Kantor Pemimpin Agung dan sebuah sekolah SD khusus perempuan," ucapnya di hadapan para tokoh dan simpatisan di Jakarta.
Sosok Khamenei yang berusia 86 tahun itu dikenang sebagai pemimpin yang tak pernah goyah melawan hegemoni kekerasan dan ekstremisme. "Ia adalah pemimpin yang tidak pernah 'tersenyum' kepada rezim Zionis Israel," tambah sang Dubes.
Trump Klaim Lindungi Rakyat
Di belahan dunia lain, Presiden AS Donald Trump justru membela langkah militernya. Trump menyatakan bahwa operasi besar-besaran di tanah Iran tersebut adalah upaya untuk melindungi rakyat Amerika dari ancaman nuklir.
Serangan ini merupakan eskalasi kedua setelah ketegangan pada Juni 2025 lalu. Sebagai balasan atas gugurnya Khamenei, Iran dilaporkan telah meluncurkan hujan rudal balistik ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Kini, di tengah perundingan nuklir yang sedianya dimediasi Oman di Jenewa, dunia justru dihadapkan pada kenyataan pahit: pemimpin tertinggi sebuah negara besar telah tiada, dan genderang perang total kini ditabuh lebih keras dari sebelumnya.
Editor : Kimda Farida