Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Eropa Bergolak di Hari Perempuan Internasional: Puluhan Ribu Perempuan Turun ke Jalan, Tuntut Kesetaraan dan Akhiri Kekerasan

Marthadi • Minggu, 8 Maret 2026 | 23:51 WIB

Ribuan perempuan turun ke jalan di Eropa saat Hari Perempuan Internasional, menuntut kesetaraan, perlindungan dari kekerasan, dan solidaritas korban perang. (euronews.com)
Ribuan perempuan turun ke jalan di Eropa saat Hari Perempuan Internasional, menuntut kesetaraan, perlindungan dari kekerasan, dan solidaritas korban perang. (euronews.com)
LombokPost – Jalanan di berbagai kota Eropa memanas, Minggu (8/3). Puluhan ribu perempuan turun ke jalan. Mereka bersatu menuntut satu hal: kesetaraan yang nyata.

Aksi ini digelar untuk memperingati Hari Perempuan Internasional. Massa membawa berbagai tuntutan. Mulai dari penghapusan diskriminasi, perlindungan dari kekerasan berbasis gender, hingga kesetaraan upah.

Di berbagai kota, demonstrasi berlangsung besar. Banyak peserta juga menyerukan akses kesehatan khusus perempuan yang lebih baik.

Dikutip dari euronews.com, aksi terbesar terlihat di Berlin, Jerman. Sekitar 20 ribu orang mengikuti pawai. Jumlah ini bahkan dua kali lipat dari perkiraan polisi.

Para orator di panggung aksi mengecam kekerasan terhadap perempuan yang masih tinggi di Jerman. Mereka juga menyoroti diskriminasi gender yang masih terjadi di berbagai sektor.

Di Barcelona, Spanyol, aksi serupa juga diikuti lebih dari 22 ribu peserta.

Aksi Global yang Sudah Berusia 115 Tahun

Hari Perempuan Internasional sendiri telah diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 1977.

Tahun 2026 menandai 115 tahun peringatan gerakan ini.

Tema tahun ini adalah “Give to Gain.” Fokusnya pada penggalangan dana untuk organisasi perempuan. Selain itu, juga mendorong aksi nyata seperti mendidik sesama perempuan, merayakan pencapaian mereka, dan menantang diskriminasi.

Data PBB menunjukkan kesenjangan masih besar. Secara global, perempuan hanya memiliki 64 persen hak hukum yang dimiliki laki-laki.

Karena itu, Hari Perempuan Internasional tidak hanya menjadi perayaan. Ia juga menjadi seruan aksi global.

Sorotan Konflik Dunia

Tahun ini, isu perang juga mendominasi demonstrasi.

Dari Brussels hingga Madrid, para pengunjuk rasa menyoroti nasib perempuan di wilayah konflik. Termasuk di Ukraina, Iran, dan Gaza.

Menurut PBB, perempuan di wilayah konflik jauh lebih rentan mengalami kekerasan berbasis gender.

Di Spanyol, ribuan orang turun ke jalan di berbagai kota seperti Madrid, Barcelona, Valencia, Sevilla, Granada, Bilbao, dan San Sebastian.

Sejumlah poster bertuliskan: “No to war” dan “Anti-fascist feminists against imperialist war.”

Di Madrid bahkan digelar aksi terpisah yang menuntut hak transgender serta legalisasi dan regulasi prostitusi.

Pernyataan Tegas Pemerintah Spanyol

Dalam salah satu aksi, Wakil Perdana Menteri Spanyol Yolanda Diaz menyampaikan pesan kuat.

“Kita punya kekuatan untuk menghentikan perang, menghentikan barbarisme, dan memenangkan hak-hak kita,” ujarnya kepada media.

Aksi ini juga terjadi di tengah ketegangan politik. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menolak penggunaan pangkalan militer Spanyol untuk serangan terhadap Iran.

Ia menyebut langkah tersebut sebagai kesalahan besar dan tidak sesuai hukum internasional.

Pernyataan itu memicu kemarahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia bahkan mengancam akan memutus perdagangan dengan Spanyol.

Editor : Marthadi
#Kesetaraan gender dunia #kekerasan terhadap perempuan #Aksi perempuan internasional #Demonstrasi perempuan Eropa #hari perempuan internasional