LombokPost - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tekanan dalam waktu dekat.
Meningkatnya tensi geopolitik global membuat investor cenderung memburu aset safe haven, sehingga memperkuat dolar AS (USD) dan emas, sebaliknya menekan pasar saham negara berkembang.
Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai penguatan indeks USD terjadi setelah investor global mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan. “AS juga sebagai eksportir minyak dan LNG dunia justru diuntungkan dari kenaikan harga energi,” kata Hans Minggu (8/3).
Di sisi lain, data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan. Data nonfarm payrolls tercatat berada jauh di bawah perkiraan pasar.
Namun, tekanan inflasi diperkirakan kembali meningkat akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik geopolitik.
Kondisi itu membuat bank sentral Federal Reserve diperkirakan masih menahan suku bunga pada pertemuan 18 Maret mendatang.
“Pelaku pasar menunda estimasi waktu pemotongan suku bunga menjadi sekitar September atau Oktober,” lanjut Hans.
Dia menambahkan, kawasan Uni Eropa dan Asia menjadi wilayah yang paling rentan terdampak konflik Iran.
Pasalnya, kedua kawasan tersebut memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor minyak dan LNG yang banyak melewati Selat Hormuz.
Tekanan global tersebut turut memengaruhi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah akibat penguatan dolar AS selama periode konflik. Dampaknya, IHSG juga berpotensi mengalami tekanan lanjutan.
“IHSG cenderung tertekan selama periode perang Iran lawan Israel–AS. Kunci pembalikan arah terjadi jika pasar mulai melihat indikasi kapan konflik akan berakhir,” ujar Hans.
Dia memperkirakan, IHSG berpotensi bergerak konsolidasi melemah dengan level support di kisaran 7.481 hingga 7.000. Sementara level resistance berada pada rentang 7.700 hingga 8.098. (mim/dio/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida