Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ancaman Iran Mengguncang Dunia: Negara yang Usir Duta Besar AS–Israel Dijanjikan Bebas Melintas di Selat Hormuz

Kimda Farida • Selasa, 10 Maret 2026 | 10:42 WIB

 KALAU Iran benar akan menutup Selat Hormuz, kata Ayub Mirdad dosen hubungan internasional Universitas Airlangga, konflik yang semula regional bisa menjadi krisis internasional.
KALAU Iran benar akan menutup Selat Hormuz, kata Ayub Mirdad dosen hubungan internasional Universitas Airlangga, konflik yang semula regional bisa menjadi krisis internasional.

LombokPost--Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait akses pelayaran di Selat Hormuz.

Melalui media pemerintah Iran yang dilaporkan Shafaq News dan InvestingLive, IRGC menyatakan bahwa negara-negara Arab atau Eropa yang mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayahnya akan diberikan “kendali penuh dan kebebasan bergerak” di Selat Hormuz mulai besok.

Pernyataan tersebut dinilai sebagai bentuk tekanan diplomatik Iran terhadap negara-negara yang masih mempertahankan hubungan dengan Washington dan Tel Aviv di tengah konflik yang terus memanas di kawasan.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Setiap gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global dan mengguncang pasar internasional.

Analis keamanan menyebutkan bahwa meskipun kekuatan angkatan laut reguler Iran mengalami kerugian besar dalam konflik terbaru—dengan lebih dari 30 kapal dilaporkan tenggelam termasuk beberapa fregat utama dan kapal induk drone Shahid Bagheri—Teheran masih memiliki kemampuan signifikan untuk mengganggu lalu lintas maritim.

Baca Juga: Pastikan Kualitas Regulasi, Kanwil Kemenkum NTB Harmonisasi Rapergub SPM 2026–2029

Kemampuan tersebut terutama berasal dari strategi asimetris IRGC, seperti penggunaan ribuan kapal cepat, rudal anti-kapal berbasis pantai, hingga serangan drone dalam jumlah besar.

Produksi drone Iran bahkan diperkirakan mencapai sekitar 10 ribu unit per bulan.

Selain itu, Iran juga diketahui memiliki persediaan ranjau laut yang dapat digunakan untuk menutup jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa serangan terhadap kapal tanker serta penghentian sebagian besar pelayaran komersial di kawasan telah terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, para pakar menilai kemampuan Iran untuk sepenuhnya mengendalikan atau menegakkan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz masih dipertanyakan, terutama karena kehadiran kapal pengawal Amerika Serikat yang terus melakukan patroli di wilayah tersebut.

Namun ancaman selektif—memberikan kebebasan melintas bagi kapal dari negara tertentu sambil membatasi pihak lain—dinilai tetap berpotensi dilakukan Iran dalam jangka pendek melalui operasi pesisir dan taktik maritim asimetris.

Baca Juga: Jalan Raya Wisata Kuta Mandalika Nyaris Ambles

Situasi ini membuat banyak negara memantau perkembangan dengan cermat, mengingat setiap eskalasi di Selat Hormuz dapat berdampak langsung pada stabilitas energi dan ekonomi global.

Editor : Kimda Farida
#krisis minyak dunia #selat hormuz #IRGC #iran #Konflik Iran AS Israel