Hal ini dipicu oleh unggahan Menteri Energi AS, Chris Wright, yang mengeklaim bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, namun unggahan tersebut segera dihapus tak lama kemudian.
Gedung Putih langsung membantah pernyataan tersebut dan menyebutnya tidak akurat. Sementara itu, pihak Teheran menuduh Washington sengaja menyebarkan disinformasi untuk memanipulasi pasar minyak global di tengah eskalasi konflik yang sedang berlangsung.
Insiden bermula saat Chris Wright melalui akun media sosialnya menyatakan bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal kapal tanker di jalur maritim strategis tersebut. Ia sempat memuji kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump dalam menjaga stabilitas energi selama operasi militer melawan Iran.
Namun, unggahan tersebut dihapus dalam waktu 30 menit tanpa penjelasan resmi. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, kemudian memberikan klarifikasi kepada awak media.
“Saya dapat memastikan bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal lain saat ini,” ujar Leavitt. Ia menambahkan bahwa meski opsi pengawalan militer tetap terbuka, belum ada operasi serupa yang dilakukan hingga Selasa.
Dampak Terhentinya Lalu Lintas di Selat Hormuz
Baca Juga: PULANG DENGAN SELAMAT! Pemerintah Evakuasi Bertahap 32 WNI dari Iran, Menlu Sugiono Sambut Kedatangan Kloter Pertama di Bandara Soetta
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang melayani lebih dari 20 persen pasokan minyak dunia. Akan tetapi, sejak pecahnya agresi militer pada 28 Februari lalu, lalu lintas komersial di wilayah tersebut dilaporkan terhenti akibat kekhawatiran akan aksi balasan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menilai tindakan pejabat AS tersebut sebagai upaya manipulasi pasar. “Para pejabat AS menyebarkan berita palsu untuk memanipulasi pasar,” tulis Araqchi. Ia juga memperingatkan dampak ekonomi yang harus ditanggung warga Amerika Serikat. “Itu tidak akan melindungi mereka dari tsunami inflasi yang telah mereka timpakan kepada rakyat Amerika.”
Araqchi memprediksi pasar minyak global akan menghadapi krisis pasokan terbesar dalam sejarah, yang dampaknya diperkirakan melampaui krisis energi besar di masa lalu.
Baca Juga: Kanada Ikut Menolak Perang Iran? Sekutu AS Mulai Terbelah
Di tengah ketegangan ini, harga bahan bakar di Amerika Serikat melonjak tajam. American Automobile Association melaporkan kenaikan harga bensin sebesar 43 sen dalam sepekan terakhir, hingga menyentuh rata-rata 3,54 dollar AS per galon.
Secara domestik, kebijakan keterlibatan militer AS di Iran menghadapi penolakan luas. Hasil jajak pendapat Universitas Quinnipiac menunjukkan 53 persen pemilih AS sangat menentang aksi militer tersebut. Senada, survei Reuters-Ipsos pekan lalu mengungkapkan bahwa 60 persen responden menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap perang yang sedang berlangsung.
Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, turut mempertegas bahwa hingga saat ini belum ada dimulainya operasi militer untuk melindungi kapal tanker di Selat Hormuz, sekaligus membantah klaim awal yang sempat beredar.
Editor : Redaksi Lombok Post