Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Trump Hanya Omon-Omon, Iran Masih Simpan Persenjataan Ampuh

Lombok Post Online • Kamis, 12 Maret 2026 | 11:11 WIB

TIDAK TAKUT: Warga Iran berjalan melewati bangunan yang rusak saat menghadiri pemakaman komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), komandan tentara, dan lainnya yang tewas pada hari-hari awal serangan
TIDAK TAKUT: Warga Iran berjalan melewati bangunan yang rusak saat menghadiri pemakaman komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), komandan tentara, dan lainnya yang tewas pada hari-hari awal serangan

LombokPost - Kasra Naji, reporter BBC di Tel Aviv, menggambarkan bagaimana ibu kota Israel itu seperti kota mati pada Selasa (10/3) malam lalu. Jalanan sepi, toko-toko tutup, dan warga berdesakan di bunker. “Warga kian tak tahan dengan situasi ini,” kata Naji.

Jurnalis lain dari sebuah televisi Spanyol yang juga berada di bunker menyebut, yang paling membuat warga cemas adalah adanya dua ledakan besar pada Selasa malam itu, tetapi sirine tanda bahaya tak berbunyi. Itu artinya sistem perlindungan Negeri Yahudi tersebut tak berfungsi.

Hal itu tak lepas dari hujan drone dan misil yang ditembakkan Iran dan Hizbullah yang berbasis di Lebanon. Dua ledakan besar tadi berasal dari misil Hizbullah.

“Bahkan juru bicara IDF (Pasukan Pertahanan Israel) Brigjen Effie Devrin juga ikut bersembunyi di bunker,” kata jurnalis televisi tersebut, seperti diunggah akun X Furkan Gozukara.

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) hampir tiap hari sejak bersama Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu harus menolak permintaan pengawalan tanker pengangkut minyak yang hendak melintas di Selat Hormuz.

Sebab, mereka tahu risikonya sangat besar, yakni bakal menjadi sasaran empuk Iran yang mengontrol selat sempit penghubung Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Padahal, beberapa hari lalu Presiden AS Donald Trump dengan mulut besarnya berkoar akan memerintahkan pasukannya mengawal tanker melewati Selat Hormuz.

“Jika waktunya tiba dan diperlukan, Angkatan Laut AS dan partner akan mengawal tanker melewati Selat Hormuz,” kata Trump dari Florida, Senin (9/3).

Garda Revolusi Iran memang sudah menegaskan, selat tersebut ditutup dan mengancam akan menembak kapal yang nekat melintas. Sudah ada beberapa tanker yang ditembak.

Korban Berjatuhan

Total juga ada sekitar 140 tentara AS yang terluka akibat serangan Iran ke pangkalan-pangkalan militer mereka di kawasan Teluk. Beberapa di antaranya dalam kondisi kritis. Sebelumnya, sudah ada delapan serdadu Negeri Paman Sam itu yang tewas. Al Jazeera juga melansir, sebanyak 13 warga Israel tewas dan 2.000 lainnya terluka.

Itu yang diakui pemerintah Israel. Sebab, kesaksian sejumlah jurnalis asing yang bertugas di Tel Aviv menyebut, rezim Benjamin Netanyahu menerapkan sensor sangat ketat. Semua hasil liputan harus disetor ke mereka dulu sebelum tayang.

Foto dan video juga hanya boleh menampilkan jejak serangan Iran ke wilayah sipil. Di Iran, akses liputan untuk jurnalis asing juga sangat sulit.

Muncul kabar bahwa Washington DC dan Tel Aviv tengah kasak-kusuk mencari exit strategy tanpa harus kehilangan muka. The New York Times juga menurunkan artikel tentang bagaimana AS dan Israel salah perhitungan sebelum menyerang Iran.

Peningkatan Serangan

Beberapa negara pun konon sudah didekati AS untuk diminta menjadi mediator. Salah satunya Turki. Namun, Teheran sudah secara terbuka menyatakan, menolak gencatan senjata. Mereka kapok karena sudah dua kali diserang saat sedang bernegosiasi.

Kalau pun mau maju ke meja perundingan, Iran mengajukan syarat sangat ketat. Ada tujuh poin, di antaranya harus tertulis dan disetujui Kongres AS sehingga ke depan tak akan ada lagi serangan seperti sekarang. Lalu penarikan semua pasukan AS dari kawasan Teluk Persia dan Israel harus menarik tentara mereka dari Lebanon.

Di sisi lain, Iran juga meningkatkan efektivitas serangan rudal ke wilayah Israel dengan menggunakan cluster munitions atau bom tandan. Pengakuan itu disampaikan oleh IDF Home Front Command, seperti dilansir dari The Jerusalem Post. Penggunaan bom tandan ini menandai perubahan strategi Iran dibandingkan Perang 12 Hari pada Juni 2025.

Biasanya, rudal balistik Iran membawa 500 hingga 1.000 kilogram bahan peledak yang menghantam satu target utama dan menimbulkan kerusakan besar. Namun, dalam versi bom tandan, satu rudal dapat membawa puluhan bom kecil seberat sekitar delapan kilogram yang menyebar setelah rudal pecah di udara.

Sebaran bom tersebut bisa menjangkau area luas hingga 10 kilometer persegi. Setiap bom memang memiliki daya hancur lebih kecil dibanding satu hulu ledak besar. Namun, efeknya tetap mematikan karena serpihan bom dapat menghantam banyak titik sekaligus.

Martin Simpson, mantan penasihat pertahanan Inggris dan analis militer Timur Tengah, malah menyebut, Iran masih menyimpan persenjataan ampuh lainnya. Senjata-senjata yang dimaksud antara lain rudal jelajah, perang siber, dan ranjau.

“Iran berpotensi memiliki kemampuan untuk meningkatkan eskalasi secara jauh lebih luas dengan cadangan yang dimilikinya saat ini,” kata Simpson kepada Wall Street Journal. (lyn/ttg/JPG/r3)

Editor : Jelo Sangaji
#ledakan #Amerika Serikat #Israel #serangan #iran