Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menlu Iran Abbas Araqchi Kritik Emmanuel Macron, Sebut Presiden Prancis "Pilih Kasih" atas Agresi AS-Israel

Redaksi Lombok Post • Kamis, 19 Maret 2026 | 18:30 WIB

Abbas Araghchi
Abbas Araghchi
LombokPost – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron. Diplomat senior tersebut menyoroti sikap Macron yang dinilai tidak memberikan kecaman terhadap kampanye militer Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran.

Melalui unggahan di akun X (dahulu Twitter) pada Kamis (19/3/2026), Araqchi menyatakan kekecewaannya atas bungkamnya pemimpin Prancis tersebut mengenai serangan terhadap infrastruktur sipil Iran.

Abbas Araghchi menilai Macron memiliki standar ganda dalam menyikapi konflik energi yang terjadi di kawasan. Menurutnya, keprihatinan Macron hanya muncul saat Iran melakukan serangan balasan, bukan saat fasilitas energi Teheran menjadi sasaran pertama.

“Macron belum mengucapkan sepatah kata pun kecaman terhadap perang Israel-AS di Iran. Dia tidak mengutuk Israel ketika mereka meledakkan penyimpanan bahan bakar di Teheran, yang membuat jutaan orang terpapar racun. ‘Keprihatinan’nya saat ini tidak muncul setelah serangan Israel terhadap fasilitas gas kami. Itu muncul setelah pembalasan kami. Menyedihkan!” tulisAbbas Araghchi.

Unggahan tersebut muncul sebagai respons atas pernyataan Macron sebelumnya yang menyerukan penghentian serangan terhadap infrastruktur vital setelah adanya serangan yang menghantam fasilitas produksi gas di Iran dan Qatar.

 

Dalam unggahan yang dikutip oleh Abbas Araghchi, Presiden Macron sebelumnya menyatakan telah berkomunikasi dengan Emir Qatar dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, guna membahas eskalasi militer di kawasan tersebut.

“Saya baru saja berbicara dengan Emir Qatar dan Presiden Trump setelah serangan yang menghantam fasilitas produksi gas di Iran dan Qatar hari ini. Adalah kepentingan bersama kita untuk segera menerapkan moratorium serangan yang menargetkan infrastruktur sipil, khususnya fasilitas energi dan pasokan air. Penduduk sipil dan kebutuhan pokok mereka, serta keamanan pasokan energi, harus dilindungi dari eskalasi militer,” tulis Macron dalam pernyataannya.

 

Ketegangan di kawasan meningkat drastis setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye militer skala besar sejak 28 Februari 2026. Operasi tersebut menyusul peristiwa pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer senior lainnya.

Agresi tersebut melibatkan serangan udara intensif yang menyasar instalasi militer hingga pemukiman sipil di seluruh penjuru Iran, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur luas dan jatuhnya banyak korban jiwa.

Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran terus melancarkan operasi pembalasan menggunakan gelombang rudal dan drone. Target utama serangan balik Iran mencakup posisi militer Amerika dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan militer regional lainnya.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Israel #Abbas Araghchi #iran #Emmanuel Macron