Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Iran Bantah Sedang Bernegosiasi Dengan AMerika, Sebut Donald Trump Sebar Berita Bohong

Redaksi Lombok Post • Selasa, 24 Maret 2026 | 08:53 WIB

Esmaeil Baghaei
Esmaeil Baghaei
LombokPost – Pemerintah Iran secara resmi membantah klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait adanya pembicaraan atau negosiasi antara kedua negara.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Teheran tidak melakukan diskusi apa pun dengan Washington selama 24 hari terakhir di tengah eskalasi konflik yang melibatkan AS dan Israel.

Ketegangan ini bermula dari ultimatum Donald Trump yang memberikan waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik. Namun, pada Senin (23/3/2026), Trump menarik ancaman tersebut dengan mengeklaim bahwa proses dialog sedang berlangsung.

Posisi Iran Terkait Selat Hormuz Tetap Tegas

Juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa prinsip negaranya dalam menghadapi tekanan militer dan ekonomi tidak berubah. Ia menyebut klaim adanya pembicaraan tersebut tidak mendasar.

“Posisi Republik Islam Iran mengenai Selat Hormuz dan syarat untuk mengakhiri perang yang dipaksakan tidak berubah,” kata Esmaeil Baghaei pada Senin.

Baghaei menjelaskan bahwa meskipun ada pesan yang masuk melalui negara-negara sahabat mengenai permintaan negosiasi dari AS, Iran tetap pada pendiriannya. Teheran justru memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi jika infrastruktur vital mereka diserang.

 Baca Juga: Pintu Rahasia” Diplomasi Terbuka! Iran Akui Terima Proposal AS, Tapi Masih Jaga Jarak

Ketua Parlemen Sebut Klaim AS "Berita Palsu"

Senada dengan Kemlu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga membantah keras adanya dialog dengan Amerika Serikat. Melalui unggahan di platform X, Ghalibaf menyebut klaim Trump sebagai upaya manipulasi pasar global.

“Tidak ada pembicaraan yang dilakukan dengan AS. Berita palsu (Hoax) seperti itu bertujuan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta mencari jalan keluar dari rawa yang telah menjerat Amerika dan Israel,” tulis Ghalibaf.

Ia menambahkan bahwa seluruh jajaran pejabat dan rakyat Iran tetap solid dalam menghadapi agresi. “Rakyat kami menginginkan hukuman yang setimpal dan menimbulkan penyesalan bagi para agresor. Semua pejabat berdiri teguh di belakang Pemimpin dan rakyat sampai tujuan ini tercapai,” tambahnya.

 Baca Juga: Trump Klaim Kantongi 'Deal' Rahasia dengan Iran, tapi Ancam Bakal Terus Hujani Bom jika Gagal

Syarat Penghentian Operasi Balasan

Konflik ini memuncak setelah serangan militer pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan serta wilayah Israel.

Pihak Iran menyatakan hanya akan menghentikan operasi balasan jika mendapatkan jaminan keamanan permanen, penutupan pangkalan militer AS di wilayah tersebut, serta pembayaran kompensasi atas kerusakan struktur militer dan sipil yang ditimbulkan.

Hingga saat ini, upaya mediasi yang dilakukan oleh sejumlah pejabat negara-negara Arab dilaporkan belum membuahkan hasil nyata karena kedua belah pihak masih bertahan pada posisi masing-masing.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#selat hormuz #Israel #amerika #iran #Donald Trump #Esmaeil Baghaei #ali khamenei