Serangan tersebut dilaporkan menyasar dua lokasi di Dubai yang diduga menjadi tempat persembunyian personel militer AS di luar pangkalan konvensional.
Juru bicara markas besar, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, menyatakan bahwa operasi ini merupakan respons atas eskalasi konflik yang terus meningkat di kawasan tersebut.
Menurutnya, serangan tersebut telah menimbulkan kerugian yang signifikan di pihak lawan.
Dalam pernyataan resmi pada Sabtu (28/3/2026), Zolfaqari menyebutkan bahwa pasukan AS terdeteksi berpindah dari pangkalan regional mereka untuk bersembunyi di dua titik berbeda di Dubai pascaserangan sebelumnya.
Iran
Lokasi pertama dilaporkan menampung sekitar 400 personel, sementara lokasi kedua berisi lebih dari 100 personel. Keduanya menjadi sasaran empuk serangan rudal presisi dan pesawat nirawak (drone) yang dikerahkan oleh unit Angkatan Udara dan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Zolfaqari menggambarkan serangan itu sebagai serangan yang menimbulkan "kerugian yang sangat besar" dan menyatakan bahwa ambulans telah mengangkut tentara Amerika, termasuk komandan, selama berjam-jam.
Pihak militer Iran juga melontarkan peringatan langsung kepada Presiden AS Donald Trump dan jajaran komando militer Amerika Serikat. Teheran menegaskan bahwa kehadiran militer AS di kawasan tersebut hanya akan membawa konsekuensi fatal.
Pernyataan tersebut selanjutnya memperingatkan bahwa wilayah tersebut akan menjadi "kuburan bagi tentara Amerika" dan menegaskan bahwa satu-satunya pilihan adalah menyerah.
Selain operasi di Dubai, militer Iran juga melaporkan serangan terpisah yang menyasar aset maritim Amerika Serikat. Sebuah kapal pendukung milik militer AS dilaporkan menjadi target serangan di perairan dekat Pelabuhan Salalah, Oman, pada Sabtu pagi.
Meski melakukan operasi militer di wilayah tersebut, pihak Iran menekankan bahwa mereka tetap menghormati kedaulatan nasional Oman, yang mereka gambarkan sebagai negara saudara dan sahabat.
Konflik terbuka antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah memasuki babak baru sejak 28 Februari 2026. Ketegangan memuncak pasca-peristiwa yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, serta sejumlah petinggi militer Iran lainnya.
Meskipun sebelumnya terdapat upaya negosiasi tidak langsung mengenai program nuklir, agresi militer yang terjadi telah mengubah arah kebijakan Teheran. Angkatan Bersenjata Iran menyatakan bahwa seluruh operasi rudal dan drone yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari kerangka tanggapan sah guna melindungi kepentingan nasional di wilayah Asia Barat.
Editor : Redaksi Lombok Post