LombokPost-- Gelombang demonstrasi besar-besaran mengguncang berbagai kota di Amerika Serikat.
Lebih dari 9 juta warga dilaporkan turun ke jalan dalam aksi yang menentang kebijakan Presiden Donald Trump, Sabtu (waktu setempat).
Aksi ini merupakan bagian dari gerakan “No Kings” yang untuk ketiga kalinya digelar secara nasional.
Tercatat lebih dari 3.200 aksi berlangsung serentak di seluruh 50 negara bagian, menjadikannya salah satu mobilisasi massa terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Para demonstran yang terdiri dari pendukung Partai Demokrat serta sebagian kalangan Republik, menyuarakan penolakan terhadap kebijakan yang dinilai semakin otoriter.
Mereka juga mengecam langkah-langkah pemerintah yang dianggap memicu konflik dan perang secara tidak terkendali.
“Tidak untuk monarki, tidak untuk ekstremisme, tidak untuk perang. Kekuatan kami bukan untuk diperjualbelikan,” menjadi slogan utama yang menggema di berbagai titik aksi.
Demonstrasi terpusat di sejumlah kota besar seperti New York, Washington, Chicago, Boston, dan Philadelphia.
Ribuan massa memenuhi jalan utama sambil membawa poster dan meneriakkan tuntutan perubahan kebijakan.
Pengamat menilai, aksi ini menjadi sinyal awal meningkatnya tekanan politik terhadap pemerintahan Donald Trump, khususnya dari kelompok pro-perdamaian di dalam negeri.
Demonstrasi ini juga disebut sebagai upaya awal untuk mendorong pemerintah menghentikan kebijakan luar negeri yang dinilai agresif.
Meski belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih, skala aksi yang masif ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah terus meningkat dan berpotensi memengaruhi dinamika politik nasional ke depan.
Editor : Kimda FaridaSumber : Al Jazeera