Dikutip dari laporan Arizona Mirror, aksi bertajuk "No Kings" ini merupakan bagian dari lebih dari 3.000 titik demonstrasi yang direncanakan di seluruh penjuru negeri. Massa menilai sistem pengawasan (checks and balances) di Amerika Serikat telah dirusak oleh ambisi pribadi sang presiden.
"Tanpa adanya pengawasan tersebut, dia adalah seorang raja," tegas Cosmo Anaya, salah satu peserta aksi yang mengkritik kegagalan Kongres dan Mahkamah Agung dalam membendung keputusan sepihak Trump.
BBM Meroket dan Perang Iran Jadi Pemicu Kemarahan publik tidak hanya dipicu oleh masalah konstitusi, tetapi juga dampak nyata pada kantong warga. Salah satu pengunjuk rasa, Gina Hernandez, menyoroti kenaikan harga bensin yang melonjak rata-rata lebih dari USD 1,30 di Arizona sejak Trump bekerja sama dengan Israel untuk memulai perang dengan Iran.
Perang tersebut dituding telah menghabiskan dana miliaran dolar, berbanding terbalik dengan janji Trump untuk menekan defisit negara. Selain itu, keterlibatan militer ini menyebabkan kehancuran fasilitas sipil di Iran, termasuk sebuah sekolah putri yang dilaporkan hancur akibat rudal Amerika.
Skandal Kripto senilai USD 1 Miliar Isu korupsi juga menjadi sorotan utama dalam demonstrasi kali ini. Peserta aksi mengecam tindakan Trump yang menggunakan jabatan kepresidenannya untuk mempromosikan merek mata uang kripto pribadinya. Praktik ini dilaporkan telah memberikan keuntungan pribadi bagi Trump sebesar USD 1 miliar.
Massa juga menagih janji-janji kampanye Trump yang tak kunjung ditepati, termasuk pembukaan dokumen terkait kasus Epstein dan penanganan krisis biaya hidup.
Kekuasaan di Tangan Rakyat Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Yassamin Ansari, yang turut hadir dalam aksi di Phoenix, mengingatkan bahwa perjuangan melawan otoritarianisme adalah kerja keras yang melelahkan.
"Kekuasaan tidak dimiliki oleh satu orang presiden, kekuasaan tidak dimiliki oleh para miliarder. Kekuasaan adalah milik rakyat," tegas Ansari di hadapan massa yang membawa payung untuk berlindung dari terik matahari.
Aksi "No Kings" 3.0 ini menandakan meningkatnya ketidakpercayaan publik setelah satu tahun kepemimpinan Trump di masa jabatan keduanya, di mana warga mulai meragukan masa depan demokrasi di negeri Paman Sam tersebut.
Editor : Marthadi